Selasa, 19 Juni 2012

RIDHO ALLAH SWT = RIDHO KELUARGA = USAHA BERKAH

Posted by Nupinupi at 20.16
Reactions: 






Saya sering membaca keluhan-keluhan teman-teman crafter...tentang ‘hobi’ mereka yang ‘terganggu’. Hobi  apa? Berkreasi flanel atau berbisnis. Terganggu oleh? Oleh suami, anak-anak, atau hal lain yang berkaitan dengan kewajiban utama mereka. Entah sebagai pelajar, pegawai, atau ibu rumah tangga/istri.


Saya sendiri dulu pernah merasakan. Sewaktu masih kuliah dan kost, waktu saya 100% ‘me time’. Tugas utama hanya kuliah/belajar. Selebihnya ‘menjahit’. Kadang kuliah bolos kalau orderan sedang  ramai, heee ^^v. Tidak ada yang protes atau merasa terganggu.  Tapi ketika bekerja, ‘waktu favorit’ saya mulai tergusur. Sampai akhirnya sama sekali tidak ada waktu, karena capek. Libur untuk tidur atau jalan-jalan. Setelah menikah dan resign, saya mulai bisa menikmati kembali ‘waktu favorit’. Tapi ternyata tidak bisa 100% seperti ketika masih kuliah dulu. Bisa dikatakan, tinggal 50%. Karena saya punya kewajiban utama yang lebih berat dari ‘sekedar’ kuliah/menjadi pelajar. Yaitu menjadi istri/ibu rumah tangga. Menjadi istri/ibu rumah tangga tidak hanya bertugas mencuci, menyapu, dan memasak kan?! Ada tugas lain yang tidak bisa diestimasikan berapa lama waktunya. Yaitu melayani dan menyenangkan suami. Ketika suami pulang kerja, kita harus siaga memenuhi kebutuhannya... Menyiapkan makan, pakaian ganti, menemaninya ngobrol atau jalan-jalan sebentar. Hal-hal seperti itu tidak bisa kita beri batasan waktu. Apalagi yang sudah punya anak...daftar tugasnya makin panjang. Memandikan anak, menyuapi, menemani bermain, dan lain-lain. Kalau punya anak, ‘waktu favorit’ bisa berkurang hingga 25% atau bahkan lebih. Saya memang belum dikaruniai anak...tapi sudah bisa membayangkan kesibukan jika sudah punya anak. Lalu bagaimana jika saya seorang ibu rumahtangga, yang mempunyai kewajiban melayani suami dan mengurus anak? Apakah saya tidak berhak lagi untuk ‘menjahit’ atau ‘berbisnis’? Tentu saja masih punya hak/boleh ^^,


Sebelumnya, saya informasikan, bahwa yang saya bahas adalah tentang kreasi flanel dan bisnisnya (dalam skala kecil) yang dijalankan oleh ibu rumahtangga. Tapi, tetap bisa diaplikasikan ke dalam kasus lain yang serupa. 


Saya senang melihat para ibu, eh bunda (sekarang pada lebih suka di panggil bunda ya...hehehehe)berpikiran maju dan mandiri. Mereka mau belajar banyak hal. Mulai dari belajar menjahit, yang akhirnya lanjut ke belajar bisnis. Banyak sekali rantai ilmu yang ‘harus’ dipelajari. Mengenal bahan – menjahit – membuat kreasi baru – menjual/memasarkan – belajar online....dan seterusnya. Jika kita pilah satu per satu, betapa banyak daftar ilmu yang harus dikuasai. Belum lagi ilmu membagi waktu. Maka, tidak heran...yang tadinya ibu rumahtangga murni, kita melihatnya tidak ada yang istimewa...”paling taunya bumbu dapur”, setelah mengenal ‘bisnis’, terlihat lebih ‘cerdas’ dibanding sebelumnya. Karena mau tidak mau dia belajar/menambah ilmu. Apalagi jika bisnisnya kita lihat berhasil...pasti orang itu terlihat pintar di segala bidang dan keren. Ya kan?! Makanya banyak orang/ibu yang kemudian ‘mupeng’, mengikuti, tapi kemudian ‘lupa’ dengan kewajiban utamanya. Ini yang sering tidak disadari, termasuk saya. 


Saya pernah share, di artikel “Banjir order...antara berkah dan musibah”. Ceritanya...saya pernah ‘lupa diri’. Lupa kewajiban utama saya karena terlalu asyik dan menomorsatukan flanel dan bisnis saya. Saya ‘tidak tahu’ kalau saya sedang mendzolimi suami/keluarga saya. Saya begitu ‘ngotot’ untuk meraup sebanyak mungkin penghasilan dan popularitas. Saya pikir, dengan memaksimalkan waktu saya, maka semua itu akan tercapai. Tapi apa yang saya dapat? Capek, pertengkaran, sakit, dan bisnis yang seolah berjalan ‘gontai’....  Sekeras apapun saya berusaha menekan ‘gas’...jalannya tetap saja seperti siput... Di mana letak kesalahan saya? Ada di pengabaian kewajiban utama saya.

Selain masalah sistem dan administrasi, ada beberapa hal yang bersifat ‘tidak langsung’ dan ‘tidak kasat mata’ menjadi faktor penentu keberhasilan bisnis kita. Keberhasilan ini tidak semata ramai pembeli, berhasil meraup banyak keuntungan materi dan populer, tapi juga berkah. Tanpa keberkahan, semua itu lama-lama akan surut/hancur. (Makna berkah bisa teman-teman baca di sini)


Ada 2 hal yang harus kita ‘perjuangkan’ supaya bisnis kita berjalan mulus dan berkembang, yaitu :


1.   1. Ridho Allah SWT

Ini mutlak, apapun itu...tanpa ridho-Nya, semua akan berantakan. Jika sejak awal niat usaha kita adalah mencari ridho Allah, dalam setiap kegiatannya, tidak akan melanggar aturan yang ditetapkan Allah. Kita akan selalu yakin bahwa hasil yang kita peroleh adalah kehendak Allah. Selain itu, kita juga akan berusaha melakukan  yang terbaik, karena tujuannya adalah Dia. Jadi, mari kita luruskan niat. ‘Menjahit’ adalah ibadah, bisnis adalah ibadah, hasilnya juga untuk kemaslahatan bersama, kita tidak melanggar hak-hak keluarga. Semakin bisnis kita berkembang, semakin kita dekat dengan-Nya dan semakin bersyukur. 


2.   2. Ridho keluarga (suami, anak, orangtua)

Ridho suami sangat penting. Hati kita akan lebih nyaman dalam menjalankan usaha jika kita tahu suami kita ridho. Kalau hati sudah nyaman, pikiran pun menjadi jernih...ide-ide dan hasil kreasi kita pasti tampak ‘fresh’. Jika terjadi masalah, kita punya teman diskusi, yaitu suami. Seringkali saya mendapatkan ide/solusi dari hasil ‘meeting’ dengan suami saya. Tapi keridhoan tersebut bisa menjadi luntur jika kita tidak pandai menjaga amanah tersebut. Meskipun kita sukses luar biasa (menghasilkan uang dalam jumlah besar), tapi suami merasa terabaikan dan tidak senang, itu akan berpengaruh pula pada ‘kejiwaan’ kita. Yang pada akhirnya berpengaruh pula pada usaha. Ketika kita memilih melakukan sesuatu, maka sudah bisa dipastikan, akan ada akibat yang mengikuti (bisa positif, bisa negatif).   Jadi, ada satu kata kunci yang perlu kita lihat, yaitu hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat adalah sunnatullah, ketetapan Allah juga. Dalam alquran diterangkan: segala sesuatu ada sebab dan segala sesuatu akan mengikuti sebab itu. Jika kita melalaikan kewajiban utama, maka akan ada akibat yang pasti kita rasakan. Kewajiban utama kita sebagai istri dan ibu bukan berasal dari suami/anak kita. Tapi kewajiban/perintah tersebut langsung dari Allah SWT. Tunaikan dulu kewajiban utama kita, maka hal ‘sunah’ lain akan mengikuti dengan baik. Tapi, jika kita mengutamakan yang ‘sunah’, belum tentu kewajiban utama akan berjalan baik. Saya tidak bisa menjelaskan secara ilmiah...kenapa ketika saya berkomitmen untuk mengutamakan keluarga, dan bisnis/hobi adalah nomor kesekian, tapi ternyata semua bisa berjalan baik, bahkan bisnis saya...alhamdulillah semakin berkembang. Padahal waktu yang saya curahkan untuk hobi/bisnis telah saya diskon demi keluarga/family time. Dan semua terasa lebih menenangkan. Di banding dulu ketika saya bersikeras memperbanyak waktu untuk hobi/bisnis saya. Contoh kejadian, yang bagi saya itu adalah hikmah. Beberapa waktu yang lalu, PBF harus tutup selama 5 hari. Karena saya mendampingi suami ke luar kota. Sebenarnya itu bukan perjalanan  penting, dan suami saya juga mengijinkan kalau saya tidak ikut. Tapi saya tahu, suami saya sebenarnya ingin, dan lebih senang saya temani. Sempat saya bimbang, menemani atau tidak. Kalau ikut suami, berarti ‘toko’ tutup, pemasukan juga tidak ada. Sayang sekali...tutup 5 hari. Berapa juta yang akan melayang. Tapi kemudian saya berpikir, bukankah tugas utama saya melayani suami?! “Ah, ya sudah...saya akan menemani suami saja”. Materi tidak lebih besar nilainya dibanding kebahagiaan suami. Suami happy, Allah ridho. Begitu pikir saya. Tahukah teman-teman, 2 hari sebelum saya tutup ‘toko’, orderan yang masuk luar biasa. Omset saya dalam 2 hari itu setara dengan omset 1 minggu. Saya sampai kaget ketika cek inet banking. Bahkan seumur-umur, uang di rekening saya belum pernah mencapai angka itu. Subhanallah! Teman-teman mungkin ada yang berpikir, “itu sih kebetulan saja”.. Tapi tidak menurut saya, semua itu karena sebuah sebab. Dan saya sering mengalami hal-hal tak terduga yang menyenangkan seperti itu ketika saya memutuskan untuk lebih mengutamakan kewajiban saya.

Hal ini bukan berarti, ketika kita mengutamakan kewajiban utama sebagai istri/ibu, lalu kita mengabaikan bisnis kita. Tidak! Bukan seperti itu. Semuanya berkesinambungan. Bisnis tetap kita kelola dengan baik, benar dan profesional. Karena tanpa hal itu, meskipun kita melaksanakan kewajiban utama dengan sempurna, bisnis juga tidak akan berkembang dengan baik. Ibarat menanam bunga di pot, tapi tidak pernah di siram/pupuk...dan kita sibuk mengurus rumah sambil berharap bunga tersebut tumbuh sendiri dengan subur. Ya nonsens! Yang ada bunga tersebut mati. Di jamin! Bisa dipahami kan? ^^,



Ridho anak juga perlu kita raih. “Yang benar saja, anak saya masih bayi. Apa bisa saya meminta ridhonya?!”... hehehehe, bukan dalam bentuk kata-kata tentunya. Tapi lebih ke penunaian kewajiban. Jika kewajiban kita sebagai ibu terlaksana dengan baik, anak juga tidak akan ‘rewel’. Dia juga akan tumbuh menjadi anak yang ‘baik’. Kembali lagi ke konsep awal, bahwa tugas kita sebagai ibu berasal langsung dari Allah SWT. Kalau tidak kita laksanakan dengan baik dan benar, pasti akan ada akibat yang mengikuti. Bahkan ketika kita tidak memahami benar tugas tersebut, dan melaksanakan tanpa keikhlasan. Akibatnya bisa langsung kita rasakan. Kita akan merasa anak sebagai pengganggu hobi kita, anak kita anggap sebagai penghambat bisnis. Lalu menyesal...kenapa harus ada anak. Masyaallah! Ingat ibu...anak adalah amanah langsung dari-Nya. Dan kita istimewa, karena mendapat kepercayaan-Nya. Tapi jangan lupa, kelak kita juga akan diminta pertanggungjawaban oleh-Nya tentang amanah tersebut. Apa jawaban kita? “Maafkan hamba-Mu ini ya Allah, saya sibuk menjahit dan mengembangkan bisnis”, begitu??



*Minimnya perhatian dan kelembutan seorang ibu yang tersita waktunya untuk aktivitas di luar rumah, jika mau disadari, sejatinya berpengaruh besar pada perkembangan jiwa anak. Terlebih jika keperluan anak dan suaminya malah diserahkan kepada sang pembantu/babysitter. Lantas di manakah tanggung jawab untuk menjadikan rumah sebagai madrasah bagi anak-anak mereka?

Banyak orang bodoh meneriakkan agar wanita jangan dikungkung dalam rumahnya, karena membiarkan wanita diam menganggur dalam rumah berarti membuang separuh dari potensi sumber daya manusia. Biarkan wanita berperan dalam masyarakatnya, keluar rumah bahu membahu bersama lelaki membangun negerinya dalam berbagai bidang kehidupan!!!


Demikian igauan mereka. Padahal dari sisi mana mereka yang bodoh ini dapat menyimpulkan bahwa separuh potensi sumber daya manusia terbuang? Dari mana mereka dapat istilah bahwa wanita yang diam di rumah karena mengurusi rumahnya adalah pengangguran? Ya, karena memang dalam defenisi kebodohan mereka, wanita pekerja adalah yang bergiat di luar rumah. Adapun yang cuma berkutat dengan pekerjaan domestik, mengurus suami dan anak-anaknya bukanlah pekerja tapi penganggur. Tidak memberikan pendapatan bagi negara.


Tahukah mereka bahwa Islam justru memberi pekerjaan yang mulia kepada wanita, kepada para istri di rumah-rumah mereka? Mereka diberi tanggung jawab. Dan dengan tanggung jawab tersebut, bisakah diterima bila mereka dikatakan menganggur, tidak memberikan sumbangsih apa-apa kepada masyarakat dan negerinya? Dalam bentuk pendapatan berupa materi mungkin tidak. Tapi dalam mempersiapkan generasi yang sehat agamanya dan fisiknya? Tentu tak dapat dipungkiri peran mereka oleh orang yang berakal sehat dan lurus serta mau menggunakan akalnya. Suatu peran yang tidak dapat dinilai dengan materi
. (http://www.ikhwanmuslim.or.id/?content=article_detail&idb=92)



Ada lagi selain ridho suami dan anak. Yaitu ridho orangtua. Kita semua tahu kan, betapa mantap dan dahsyat doa orangtua, terutama ibu. Karena hal itu, saya berkesimpulan, supaya orangtua saya ridho, saya harus bisa menyenangkan hati kedua orangtua saya. Sehingga ketika mendoakan saya...doanya ‘tidak mungkin’ ditolak Allah, karena doanya sangat berkualitas. Bagaimana tidak berkualitas jika orangtua saya  berdoa dengan hati yang ridho, sepanjang waktu/intens, dan penuh ketulusan?! Maka saya menyediakan waktu untuk orangtua saya. Meskipun di waktu tersebut saya harus ‘libur’ bekerja. Setiap hari rabu, kami libur kirim paket (yang sudah menjadi pelanggan PBF pasti tahu jadwal tersebut). Itu karena saya sudah punya agenda pulang kampung. Tidak ada kepentingan apa-apa, hanya sekedar bertemu orangtua dan menemani mereka. Padahal mereka juga tidak masalah kalau saya tidak pulang. Tapi saya tahu, mereka senang kalau anak-anaknya pulang. Hal sepele, yang kadang menurut sebagian orang itu tidak penting atau tidak ada hubungannya dengan bisnis. Tapi buktinya, berkali-kali saya merasakan manfaatnya. Ada hal yang kadang di luar logika saya, bisa terjadi. Omset yang terus menerus tumbuh, kebahagiaan dan keberkahan yang saya rasakan bersama keluarga. Sampai sekarang saya masih terus berpikir, betapa Allah selalu menepati janji-Nya. Jika kita menjaga amanahnya dengan baik, maka ‘dunia seisinya’ digenggaman kita. Coba saja resep ini, berbakti kepada orangtua. Insyaallah bisnis kita akan berkembang. Tapi tetap dengan aturan ‘bunga di pot’ tadi lho yaa.... ^^,


*Dari Abu Abir Rahman-Abdullah bin Mas’ud r.a.,dia berkata:”Aku bertanya kepada Nabi SAW : ’Manakah amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah Yang Maha Tinggi?’ Rasul menjawab: ’Melakukan solat tepat waktunya (tidak dikerjakan diluar waktunya).’ Aku bertanya: ’Kemudian apakah?’ Rasul menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua’. Aku bertanya: ’Kemudian apa?’ Rasul menjawab:’Jihad di jalan Allah’.” (HR.Muttafaq alaih)


Nah...sampai ke pembahasan akhir, yaitu Allah SWT ridho = suami ridho = bisnis berkah. Bagaimana kita tahu bahwa bisnis/usaha kita berkah? Kita akan merasakan hal-hal berikut :


1.  1. Hidup seimbang. Kita bisa menunaikan hak dan kewajiban secara seimbang. Hak keluarga, hak sahabat, hak tetangga/masyarakat, dan hak pribadi...bisa kita laksanakan dengan baik dan benar. Bisnis tidak membuat kita merasa terganggu dengan kehadiran suami/anak. Bisnis tidak membuat kita lupa terhadap orangtua. Bisnis tidak menghalangi kita untuk bersilaturahmi ke sahabat ataupun pertemuan PKK :P

2.  2. Bermanfaat bagi umat. Tidak harus dalam skala besar. Bisa dalam skala kecil. Misal, kita jadi bisa memberdayakan keluarga/tetangga/teman untuk membantu mengembangkan bisnis kita. Manfaat bisnis tidak hanya kita yang merasakan, tapi juga orang-orang di sekitar kita. Belum lagi jika kita secara rutin mengeluarkan zakat dan shodaqoh dari hasil bisnis kita. Kita transfer ke Dompet Dhuafa atau Yayasan Anak Yatim misalnya. Ingat... Dalam setiap penghasilan/harta yang kita peroleh, didalamnya ada hak orang lain.  Dan wajib bagi kita (muslim) untuk mengeluarkan shadaqah, infaq dan zakat. Bila kita tidak mengeluarkannya, berarti kita telah berlaku dzalim, menguasai/memakan harta yang merupakan hak orang lain, khususnya kaum dhuafa. Harta yang berhasil kita kumpulkan itupun merupakan cobaan. Kita  mensyukuri harta yang diperoleh tersebut dan mau berbagi dengan orang lain atau sebaliknya, kita menjadi tamak dan kikir ^^

3.  3. Keluarga bahagia. Seperti yang saya jelaskan di atas, jika hak keluarga bisa kita tunaikan secara sempurna, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mendukung kita. Selain dukungan penuh, mereka juga akan mendoakan keberhasilan usaha kita. Otomatis kita juga tenang dan bahagia :)

4.   4. Usaha semakin berkembang, materi melimpah

5.  5. Semakin kreatif dan produktif. Efek dari ketenangan dan kebahagiaan yang kita rasakan adalah kepada kejernihan pikiran. Pikiran jernih dan hati yang tenang biasanya akan menghasilkan ide-ide yang cemerlang.

6.  6. Semakin dekat dengan Allah. Kadang ketika usaha kita berkembang, kita menjadi super sibuk. Lalu mulai melupakan kewajiban utama kita kepada-Nya, yaitu sholat. Jangankan sholat sunah, yang wajib pun sudah tidak sempat lagi kita laksanakan/atau ditunda-tunda. Malu kepada-Nya, Dia lah yang memberi rejeki kepada kita, Dia yang menjadikan usaha kita berkembang. Godaan untuk lebih mengutamakan bisnis akan lebih kuat daripada sholat. Saya sendiri merasakannya kok... “ah nanti dulu, tanggung. Pelanggan mau buru-buru transfer soalnya, jadi harus di rekap sekarang”. Jadi, tidak masalah Allah yang menunggu... Astaghfirullah :(  #itu saya banget, teman-teman. Jujur!


Selesai... Alhamdulillah. Saya harap tulisan saya ini tidak berkesan menggurui, apalagi kalau yang membaca lebih tua atau lebih berpengalaman dari saya. Saya hanya menceritakan pengalaman pribadi dan membagi hikmahnya. Semoga bermanfaat... Wallahu a’lam







13 komentar:

  1. tulisan yang sangat menarik. sangat mencerahkan hati. terimakasih ya mbak. ijin share linknya ya

    BalasHapus
  2. Subhanallaaahhh... Semua yang ditulis mbak diatas benarlah adanya.
    Saya juga mengalami hal itu mbak. Dan hampir saja craft "menggelincirkan" saya.
    Ternyata diri sendirilah yang tidak bisa memanajemen. Trimakasih postingannya.
    Ini yang namanya "Ta'awanu 'alal birr wa taqwa". :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena itu saya alami sendiri mb... dan trnyata, banyak juga yg senasib :)

      Hapus
  3. subhanalloh..terharu mbaca artikel mb..trima kasih ya mb,artikelna bener2 bgs..smg saya bs jd istri,ibu,yg baik bt suami n anak2 amin..ijin share link na ya mb..*_~

    BalasHapus
  4. like this very muuch...

    mardhotillah is number one

    HAMASAH....!!!!

    BalasHapus
  5. makasih mba... ini sangat dekat...... berasa ditelanjangi... lalu dicerahkan...
    semoga istiqomah ya mba...
    saya izin share... izin contek ilmunya...
    semoga pula merasakan hikmah yang sama dengan yg mba rasakan ...
    aamiin

    BalasHapus
  6. Salute sama yg bisa membagi waktunya deh,,karna gakj smua orang (perempuan) bisa begitu. Saya aja yg masih single, suka bingung .... hehehhhe

    **makasih sharenya ya mbak

    BalasHapus
  7. Ilmu yg tak terduga, begitu membuat otak saya berpikir & membuat saya mengevaluasi diri. Thanks ya mba atas share ilmunya. Agar usaha saya berkah & usaha mba jg smakin bertambah berkah, saya mau share link mba. Boleh kan? :)

    BalasHapus

 

nupi-nupi Copyright © 2012 Design by cutelittleowl.com