Minggu, 25 November 2012

STRATEGI SEDERHANA MENJUAL KREASI FLANEL SECARA ONLINE (FACEBOOK)

Posted by Nupinupi at 02.21
Reactions: 
20 comments Links to this post

Dulu saya pernah share tentang persiapan memulai bisnis online. Sekarang, saya akan share tentang cara memasarkannya. Kalau teman-teman Googling “strategi pemasaran online”, akan ada  kurang lebih 802,000 results/ hasil. Banyak sekali kan?! Tapi hampir semua berisi : afiliate marketing, email marketing, SEO marketing, viral marketing, blog marketing, network marketing... Bukannya tambah paham malah pusing,hahahaha. Ya sudah, saya coba-coba sendiri menggunakan cara yang saya pahami, dikombinasikan dengan pengalaman-pengalaman teman-teman lain. Jadi, ini cara sederhana saya untuk memasarkan secara online.

Alasan saya memilih pemasaran secara online karena :
  1. Sejak SMP (tahun 1998), saya sudah mengenal komputer dan internet. Saya sangat tertarik dan betah berlama-lama di depan komputer, coba-coba program dan main game. Betah surfing di dunia maya. Walaupun surfing hal yang tidak penting.
  2. Wilayah tempat tinggal saya hanyalah kota kecil, kerajinan flanel tidak populer. Daya beli sangat rendah, paling pol hanya apresiasi mereka berupa pujian. Jarang sekali saya bisa menjual. Tapi syukurlah saya kuliah di kota Solo, kota yang agak besar dan lumayan heterogen. Dan “warga” kampus adalah sasaran empuk saya. Sebenarnya sudah sangat lumayan hasilnya, tapi saya masih kurang puas dengan jangkauan marketnya. Akhirnya saya berpikir untuk online.
  3. Dengan online, potensi target market kita sangat luas. Tidak akan dibatasi oleh “keprimitifan” kampung kita. Karena kita akan tetap bisa menjual dan punya pelanggan dari wilayah lain.

Pada waktu memutuskan untuk memasarkan produk flanel saya secara online, hal-hal sederhana yang saya lakukan sebagai strategi pemasaran online adalah :
  1. Membuat akun di jejaring sosial (Facebook dan Twitter). Saya ingin membuat akun lain, tapi belum siap mengelolanya. Jadi nanti-nanti sajalah...hehehe. Dulu saya membuat akun pribadi di Facebook, tapi sekarang sudah full. Teman-teman lain melanjutkan dengan membuat akun kedua. Tapi saya lebih memilih membuat pages, karena sering sekali “dikejar-kejar” untuk segera meng-konfirmasi permintaan pertemanan mereka. Kadang-kadang, hal itu menjadi beban bagi saya. Misal sedang repot, tidak bisa online,sementara orang itu minta cepat-cepat di konfirmasi, bagaimana perasaan teman-teman? Jadi, saya buat pages saja, yang mau berteman...langsung LIKE, tidak perlu menunggu konfirmasi. lagipula jumlahnya tidak terbatas ^^
  2. Membuat blog. Selain untuk ajang pamer kreasi, blog saya jadikan “tempat untuk mendisplay” barang-barang dagangan saya. Blog juga untuk menjangkau calon pelanggan yang tidak “fesbukan”.
  3. Buat nama yang paten, tidak ganti-ganti. Mungkin sekarang orang belum tertarik, tapi suatu saat orang itu butuh, atau temannya yang butuh, dan dia masih ingat nama Facebook/onlineshop anda, akan di cari dan ketemu dengan mudah. Tapi kalau ternyata anda 1 bulan sekali ganti nama...akan susah sekali menanamkan “brand image” ke ingatan pelanggan. Otomatis, semakin jauhlah OS anda dari keramain pembeli. Ya kan?
  4. Buatlah foto-foto produk yang jelas dan bagus. Tidak harus dengan camera digital, memakai kamera HP juga oke kok, asal kita pintar mencari angel dan pas pencahayaan (dianjurkan memotret siang hari). Karena, meskipun memakai blitz, kalau malam hari tetap kurang memuaskan hasilnya (menurut saya). Perhatikan juga background-nya. Produknya warna-warni, background-nya karpet/kertas kado yang warna-warni pula. Meskipun pelanggan bisa membedakan mana background, mana barang dagangan anda...tetap saja membuat otak jenuh dengan “keramaian” itu, sehingga ujung-ujungnya malas untuk memperhatikan lebih lanjut, apalagi membelinya.
  5. Bergabung dengan grup-grup yang relevan dengan “bisnis” kita. Di situ kita bisa mendapat banyak manfaat. Bisa berpromosi, menambah ilmu, menambah teman, dan tentu saja...banyak calon pelanggan potensial yang bisa kita gaet.
  6. Menurut saya pribadi, jangan nge-TAG sembarangan atau memasukkan orang ke grup sembarangan.
  • Sekali nge-tag 5 foto, di hapus...di tag lagi.
  • Nge-tag foto random dan tidak tepat sasaran. Nge-tag “SARI RAPET” ke OS Nupinupi Paket Belajar Flanel. Hadeuuh... okelah “siapa tahu butuh”. Tapi menurut saya malah tidak efektif dan menganggu. Ibarat kita punya toko, tahu-tahu ada teman kita yang datang dan langsung menjejer barang  dagangannya di dalam toko kita. Bagaimana perasaan anda sebagai pemilik toko? Kecuali, kalau si pemilik toko sudah mengijinkan/anda biasa-biasa saja di tag apapun dan berapapun. Monggo...  
Nge-tag juga perlu strategi. Saya membuat aturan pribadi tentang tag-mengetag ini :
  1. Lihat produk kita, lihat target market kita/siapa yang kira-kira berminat dengan produk kita. Ketika saya mau promo paket belajar, yang saya tag bukan malah teman-teman penjual kreasi flanel. Tapi teman-teman yang nge-add PBF dan dia tidak menjual apapun. Lhah buat apa men-tag teman-teman penjual kreasi flanel, mereka sudah bisa membuat sendiri. Target saya kan orang-orang yang belum bisa membuat kreasi flanel. Meskipun seiring waktu berjalan, akhirnya pelanggan PBF juga banyak dari kalangan crafter,bahkan yang sudah mahir juga banyak. Tapi tetap, sasaran utama PBF orang-orang yang belum bisa membuat kreasi flanel dan ingin belajar. Karena, dari awal memang tujuannya adalah membantu teman-teman yang ingin “kursus flanel”, tapi dengan metode jarak jauh. Jadi, antara konsep awal kita berbisnis dan penetapan target market promosi itu sangat erat hubungannya. Contoh lagi, dulu saya menerima pesanan aneka topping jadi. Karena saat itu felt cake sedang booming. Banyak crafter yang membuat kreasi felt cake. Dan saya tahu, mereka pasti lama-lama “capek” kalau harus membuat topping sendiri. Ingin yang praktis dan menguntungkan. Maka, sasaran saya adalah teman-teman yang menjadi produsen souvenir, felt cake, atau pembuat kotak tisu. Kalau saya nge-tag mereka, kemungkinan besar mereka tertarik, dan tag saya itu tidak menjadi gangguan untuk mereka. Intinya, saya sebagai anggota masyarakat dunia maya, tidak keberatan di tag, asal relevan dengan usaha saya. Kadang-kadang saya, sebagai penjual bahan-bahan kerajinan juga butuh tag dari penjual bahan kerajinan lain untuk melengkapi barang dagangan yang susah di dapat di wilayah saya.
  2. Awal-awal saya usaha, saya nge-tag ke beberapa teman, tapi dengan penuh perhitungan dan hati-hati. Karena saya tidak mau, tag saya tersebut menjadi gangguan untuk orang tersebut. Tapi sekarang, karena alhamdulillah sudah di kenal, saya tidak pernah nge-tag lagi. Saya nge-tag hanya ketika di minta, atau saya tanyakan dulu lewat status.. “Hari senin, PBF baru akan diluncurkan. Yang ingin di tag, silakan LIKE status ini”.  Dan benar, teman-teman yang berminat pun me-LIKE status saya. Pada hari H, saya uplod fotonya, saya tag satu persatu orang-orang yang me-LIKE status saya. Ini jelas tepat sasaran dan tidak membuat orang risih/kesal dengan tag kita. Karena yang saya tag adalah orang-orang yang butuh/berminat.
  3. Saya lebih suka memberikan link-link di wall saya sendiri dari pada tag foto, karena bisa  tampak seperti display “toko” saya. Jika ada teman yang membuka profil saya, yang terlihat adalah barang-barang yang saya tawarkan, bukan sekedar status berisi kata-kata promosi apalagi  info kegalauan kita (karena akun tersebut adalah onlineshop/toko, kalau di akun pribadi..lain urusan) ^^v #be professional aja
Efek dari suka tag sana-sini (tanpa strategi) :
  • Tidak tepat sasaran
  • Membuat orang lain ilfil, yang bisa berujung di remove atau di blokir.
Rugi sendiri kan?
Jadi,silakan nge-tag, tapi be smart. Supaya tepat sasaran, dan bisa mendongkrak bisnis kita :)

Itu tadi beberapa poin sederhana yang saya lakukan selama ini. Tetap...dengan kesabaran, kefokusan, dan keistiqomahanlah semua strategi tersebut bisa memberi hasil positif. Semangat! ^^


Senin, 19 November 2012

KEPUTUSAN GILA "MENGGANTUNGKAN HIDUP" DARI KAIN FLANEL

Posted by Nupinupi at 03.04
Reactions: 
164 comments Links to this post
“Apa saya bisa menggantungkan hidup dari kain flanel?” Berapa banyak orang yang berpikiran seperti itu? Tunjuk jari!... Eh..eh..sudah tidak model tunjuk jari ya, tapi dijempoli (like), hehehehe

Saya ikut-ikutan tunjuk jari dan nge-like. Lhoh..iya, dulu saya juga berpikir  seperti itu. Ciyus!
Bukan hanya saya pribadi malah, orang-orang di sekitar saya juga memandang sebelah mata. Dan itu yang lebih sering menjadi alasan dominan untuk tidak serius menekuni dunia flanel. Biasanya kita akan lebih mantap dengan pendapat orang banyak, meskipun kita sendiri sebenarnya tidak yakin dengan pendapat orang tersebut. Tapi…karena hampir semua orang mengatakan A, kita ikut menjadi A, dan percaya bahwa pendapat banyak orang pasti lebih valid, daripada pendapat/insting kita sendiri.

Akhirnya, banyak pegawai merangkap crafter menjadi galau. Jangankan pegawai, yang menganggur di rumah pun banyak yang tidak berani memantapkan diri menggeluti dunia flanel (padahal mereka nganggur, misal gagal, cuma rugi materi yang tidak seberapa, karena modal untuk memulai usaha kreasi flanel memang kecil. Bisa di mulai dari puluhan ribu rupiah)

Pembahasannya mungkin agak "panas" dan semakin membuat galau, jadi silakan ambil cemilan dan es teh dulu untuk teman membaca supaya lebih adem ^^

Pikiran-pikiran yang bisa diterjemahkan biasanya seperti berikut ini :
  1. Ingin keluar kerja dan fokus pada flanel, tapi kok takut… “gantungan kunci flanel yang harganya cuma 2.000 perak/pc, apa iya bisa untuk nyicil ‘apartemen’?” Boro-boro sampai mikir apartemen, mikir bisa membuat asap dapur tetap mengepul saja tidak pede, hehehehehe. ----> terlihat logis, padahal tidak juga
  2. Kain flanel itu barang apa sih?! Bukan kebutuhan pokok. Hanya seperti mainan. Siapa yang mau terus-terusan beli barang seperti itu? Karena tanpa kain flanel, orang-orang bisa tetap hidup sehat dan bahagia. Bahkan mungkin, kalau kain flanel ini lenyap dari muka bumi, manusia akan tetap baik-baik saja. Jadi, di mana letak nilai bisnisnya? ----> Wooh…belum  tau dia.
  3. Ada yang mengatakan, tren flanel mulai pudar/akan memudar. Jadi, kreasi-kreasi flanel itu, di tahun 2014 (tidak usah menunggu tahun 2020, kelamaan) itu tidak akan akan laku atau bernasib sama seperti mobil-mobilan dari kulit jeruk bali -----> sangat ampuh membuat kita bimbang
  4. Oke lah! Meskipun kain flanel -gombal warna-warni- ini bukan kebutuhan pokok, ternyata peminatnya banyak, dan menurut ahli ekonomi prospeknya cerah (kalau ini karangan saya sendiri ^^v). Tapi…tetap saja percuma kalau dagangan saya (kreasi-kreasi flanel) jarang laku/bingung memasarkan kemana -----> kalau yang ini IDL (Itu Derita Lo)….hahahaha.
Cocok dengan pikiran teman-teman?

Saya akan membagi pembahasan ini menjadi 4 poin agar lebih mudah di pahami.

Kenapa kita bisa punya pikiran dan keyakinan seperti yang saya sebutkan di atas? “analisis” sederhana saya :
a. Kreasi flanel umumnya bersifat hiburan, bukan barang pokok. Jadi, orang tidak akan mengeluarkan uang jika tidak benar-benar tertarik (dan kita pun berpikir, kreasi seperti ini siapa yang tertarik?!).
b.  Kain flanel (untuk kerajinan) mudah kotor, berbulu, dan sifat kainnya tidak “setangguh” kain yang biasa untuk pakaian. Tidak cocok untuk membuat pakaian (kecuali flanel yang jenisnya beda/ntah apa nama spesifiknya, biasanya untuk kemeja atau popok bayi)
c.  Kain flanel identik dengan gantungan kunci/kreasi sekedar hiasan/mainan. Jadi, banyak orang yang berpikir pemanfaatan kain flanel itu terbatas untuk barang-barang yang tidak terlalu bernilai guna (karena saya sering mendapat komentar “wah, ternyata kain flanel bisa juga di buat seperti ini ya?”)

Bagaimana untuk memutarbalikkan pikiran-pikiran negatif tersebut? (Keren sekali bahasa saya, hahahaha)
  • Masih banyak orang yang menghargai handmade, karena handmade identik dengan limited/exclusive. Mungkin mereka berpikir sebaliknya “susah sekali mencari crafter-crafter handmade, padahal saya suka barang-barang handmade yang lucu-lucu”. Kalau seperti itu, berarti kita hanya belum bertemu dengan orang-orang tersebut ^^
  • Masih banyak orang yang tidak fokus pada nilai guna atau keawetan, tapi pada model yang limited, unik, dan warna-warna menarik.
  • Masih banyak orang yang tertarik atau lebih tepatnya “butuh” dengan souvenir murmer
  • Masih banyak orang yang suka melihat barang unyu-unyu
  • Jika kita bisa membuat perbedaan atau membuat kreasi yang fungsional, tentu peminatnya akan lebih banyak. Misal : kita membuat kreasi bunga dari kain flanel. Hanya bunga saja. Yang berminat mungkin banyak, tapi akan sedikit yang membeli. Karena mereka tidak tahu manfaatnya apa (kecuali produsen-produsen souvenir). Tapi kalau bunga tersebut ditempelkan di bando/bandana/kotak tisu, saya yakin…akan lebih banyak peluang kreasi tersebut laku ^^
  • Jika ada yang mengatakan tren flanel mulai pudar/akan memudar dan konsumen sudah bosan, siapa yang membuat pernyataan itu? Tetangga? Teman? Nenek? Atau seorang pakar ahli tertentu? Dan berapa kali anda mendengar pernyataan seperti itu? 1x? Biasanya hanya 1x, tapi sudah digeneralisir. Apalagi kalau mendengar dari beberapa orang ^^ ----> Faktanya : setiap bulan, penjualan flanel nupinupi (Alhamdulillah) meningkat. Saya tidak tahu, Indonesia sebelah mana yang sudah bosan dengan kreasi flanel. Bahkan, di negara sekelas Jepang, sampai sekarang kreasi flanel masih eksis (menurut saya siiih…^^ hihihihi)
  • Tuhan tidak pernah iseng dalam menciptakan sesuatu. Memangnya kita, share foto di grup dengan keterangan : “@halte, nunggu angkot kelamaan, iseng-iseng jahit. Jadi deh… “(1 lusin kreasi) -bukan bermaksud menyindir yang uplod foto lho yaaa. Saya hanya menekankan contoh kata “iseng-iseng”nya itu- Bahkan, (maaf) kotoran pun ada manfaatnya. Apalagi kain flanel. Asal kita mau meng-explore-nya, pasti hasilnya juga lebih.
Teman-teman sependapat dengan poin-poin di atas? Berarti kita bisa melangkah ke poin selanjutnya. Yaitu,strategi menghasilkan uang dari kain flanel. Yiaa…pasti langsung tidak sabar :D Perlu diingat, ini hanya cara saya sebagai orang awam yang sedang belajar bisnis. Jadi, misal cara ini tidak berjalan baik ketika teman-teman ujicoba-kan…yaah, mohon maklum ^^v
  • Fokus. Mengenai fokus, sudah saya share di blog nupinupi.com. Judulnya Tentang Fokus. Silakan di cari ^^
  • Konsisten. Kalau beberapa minggu atau bulan sudah bosan menunggu hasilnya, dan berniat ganti haluan, itu namanya belum konsisten. Saya butuh waktu beberapa tahun untuk mencapai titik sekarang ini.
  • Menjadi spesialis. Masalah ini saya bahas di artikel Tentang Fokus.
  • Menentukan target market. Misalnya…produk-produk yang cocok untuk anak-anak sekolah, ibu-ibu, souvenir pernikahan, atau exclusive (menengah  ke atas). Hal ini perlu, karena ini menentukan kualitas bahan baku yang akan kita sediakan.
  • Menentukan, mau di jual online atau offline. Kalau memang teman-teman tinggal di daerah yang daya belinya rendah, onlineshop bisa menjadi alternatif. Karena pangsa pasar kita akan lebih luas…melampui wilayah kita, bahkan negara kita ;)  
“Okee…saya sudah percaya diri dan bersemangat untuk memulai bisnis kreasi flanel saya. Tapi, bagaimana strategi pemasaran saya nanti?”
Ada beberapa cara sederhana tapi cukup efektif untuk memasarkan hasil kreasi flanel (lagi-lagi ini cara saya sendiri lho yaa..)
  • Mulai dari lingkungan sekitar. Teman kuliah/kost, teman kantor, teman sekolah anak, keluarga/saudara, teman organisasi. Biarkan proses promosi dari mulut ke mulut ini berjalan secara natural, dan nikmati hasilnya.
  • Online. Tentu saja…itu cara favorit saya. Cara memasarkan secara online, silakan baca di sini
  • Sesuaikan barang yang di jual dengan target market kita. Misal : kita membuat dan menjual kotak tisu seharga 50 ribu kepada bocah-bocah SD. Ya tidak cocok laaah, dari segi harga, manfaat, maupun kemenarikan.  Untuk anak-anak SD, buat kreasi-kreasi yang murmer tapi menarik, bisa mereka pakai di mana-mana. Harga sesuaikan dengan uang saku mereka.
  • Ikut bazaar, pameran, atau pasar murah. Ini juga sangat mendongkrak popularitas sekaligus omset ;)
  • Bekerja sama dengan pihak lain. Misal : menitipkan kreasi kita di koperasi-koperasi, toko-toko kecil, konter, swalayan, dll (kalau yang ini, jujur saya belum pernah. Karena saya kurang sreg dengan sistem yang biasanya diberlakukan/sistem konsinyasi---tapi berdasarkan pengalaman beberapa teman, cukup memuaskan hasilnya) Atau bisa juga bekerja sama dengan toko-toko grosir/produsen souvenir. Jadi kita sebagai supplier mereka.
  • Di resellerkan. Biasanya ini lebih menarik perhatian calon pelanggan.
  • Khusus ibu-ibu atau mahasiswa yang senang berorganisasi, cobalah untuk mengisi acara dengan kursus flanel singkat. Ini cara cepat mempromosikan usaha flanel kita kepada lingkungan sekitar
  • Menggunakan Blackberry. Sekarang ini BB sudah menjadi barang biasa, dan memasarkan produk memanfaatkan BBM juga sudah menjadi hal lumrah, bahkan banyak disukai calon pelanggan karena praktis. Tapi nupinupi belum memanfaatkan BBM untuk pemasaran. 
Saya memasarkan kreasi saya bermula dari kampus dan teman-teman kost, lalu internet.
Intinya, semua strategi itu membutuhkan kesabaran. Semua butuh waktu, butuh proses. Tidak ada yang instan kecuali cepat sekali bubar.

Nah..bagaimana? sudah berani “gila”? Eh..tapi jangan salah. Saya tidak sedang memprovokasi anda untuk keluar kerja lho ya. Mungkin tulisan saya ini bisa menjadi wacana, sehingga yang tadinya belum tahu, menjadi tahu. Yang tadinya belum menyadari, menjadi sadar ^^v Semuanya harus dipertimbangkan matang-matang, baru kemudian silakan mengambil keputusan.

Ngomong-omong masalah resign dan terjun bebas ke dunia flanel, saya punya teman yang melakukan hal itu. Nama OS-nya di Facebook : Belinda Jacellyne Shop

Berikut obrolan saya (N) dengan beliau (B) --- sudah di edit sana-sini

N : boleh tau alasan resign-nya?

B : sebelum resign, saya sudah terima orderan flanel. Trus pas udah deket-deket lahiran, ternyata responnya makin bagus. Di tambah suasana kantor yang tidak kondusif/tidak nyaman. Pilihan ya resign. Trus cari pembantu susahnya minta ampun. Ya udah, jadi babysitter aja di rumah, sambil terima orderan flanel.

N : penghasilan dari flanel-flanel tersebut bagaimana mb?

B : hasilnya? Baguuuss… Terus terang, dulu aku tidak berpikir mau menjadikan flanel sebagai income. Orderan juga kan tidak tentu. Tapi kalau kasarannya, bisa masuk minimal 3jt/bulan (sudah di potong bahan baku). Apalagi sekarang resellerku nambah terus. Di banding dulu waktu masih kerja, duit segitu gak sebanding mb. Sekarang kan waktunya flexible, anak di urus sendiri, tidak perlu bayar pembantu/baby sitter. Selain hobi, juga menghasilkan duit tidak sedikit kok.

N : emang dulu mb kerja di bagian apa? Sudah punya jabatankah?

B : Jabatanku dulu di kantor…Purchasing Manager dan HRD Manager. Kalau naik jabatan bisa jadi direktur SDM. Tidak semua orang mau melepas jabatan itu. Tapi aku tidak pernah menyesal sedikitpun. Rejeki tidak cuma kerja dengan orang kok, hehe… Kalau mau sabar, 5 atau 10 tahun lagi mungkin aku punya kartu nama direksi ^^ 
-Belinda-

Ada tambahan  cerita lagi, agak kontras dengan cerita pengalaman di atas. Supaya teman-teman juga tahu, bahwa memulai bisnis ini pun butuh perjuangan dan komitmen yang kuat... Tidak ada yang mudah, semua harus diperjuangkan ^^

Berikut "wawancara" Nupinupi dengan Novi Cuyati, teman kita dari Bandung :)

1.      Mulai kapan resign dari kantor? Alasannya apa
Per 1 Juli 2012 lalu, beberapa minggu menjelang ramadhan sudah resmi jadi full time IRT alias ibu rumah tangga. Kerja di rumah saja, ngurus suami dan fokus ke bulan ramadhan. Saat itu baru sekitar 6 bulan menikah. Alasan resign awalnya memang bukan karena flanel, tapi karena sudah tidak nyaman dan keadaan di kantor sudah tidak kondusif, eh malah diberi lampu hijau sama suami, ya sudah Alhamdulillah. Memang dari awal lulus kuliah dulu kerja bukan untuk karir tapi untuk batu loncatan/ pengalaman, karena itu juga perlu.
  
2.      Bagaimana di awal pejuangan? Apa saja yang dirasakan?
Dulu ga sengaja menemukan souvenir nikahan yg mamah bawa dari nikahan salah satu kerabat. bentuk love sederhana dan warnanya bagus. Tahu sih itu namanya kain flanel, tapi karena di daerah tempat tinggal belum pernah menemukan took penjual flanel, jadi sama sekali belum jatuh cinta. Sampai akhirnya penasaran membawa v ke warnet Cuma untuk sekedar pengen tahu apa sih sebenarnya flanel itu?
Wooooow! Takjub, ternyata flanel bisa jadi apa saja. Kayak satria baja hitam, bisa berubah. hehehe. Dari sana pula v “nyasar” ke blog NUPI, n crafter lain yg karyanya ciamik semua dan tentu saja bikin ngiler. Pengen bisa bikin juga, pengen belajar jahit lagi. Dulu sering internetan Cuma buat cari referensi tugas kuliah aja dan Facebook ga begitu di manfaatkan, Cuma sekedar punya akun, udah jarang update.
Lupa tepatnya kapan, sekitar juni tahun lalu kalo ga salah, pokoknya saat itu Paket belajar Nupi lagi tutup karena pindahan. Padahal yg v cari sudah v temukan, tapi waktunya belum jodoh. Kursus flanel jarak jauh. Solusi saat itu Cuma itu, karena untuk menemukan flanel saja v ga  tahu harus beli ke mana.
Dipantengin terus deh tuh FB nunggu PBF Nupi buka dan rasanya ga sabar pengen beli paket belajarnya. Dan pada bulan agustus 2011 DIY kit yang pertama v beli adalah Boneka Mayra lengkap sama bahannya. Senengnya bukan main deh kaya anak kecil dapet maenan baru.
Awalnya jahit2 kain flanel di sela2 libur kerja dan Cuma sekedar kesenangan, hobby, juga menjawab penasaran  apakah v bisa jahit atau ga? Terus terang waktu SMP dulu paling males sama pelajaran TATA BUSANA yang isinya disuruh jahit n buat pola dan ngapalin jenis tusuk2an. Dan sekarang menyesal kenapa dulu ga tertarik pelajaran itu karena ternyata bermanfaat.hehe.
Tidak ada satupun karya vi yang di jual saat itu, kalau ada yang suka ya diberikan begitu saja, karena saat itu bingung mau dikasih harga berapa karena ga pernah ngitung. Puas sih, tapi kata mamah kenapa ga dijual aja, kan lumayan, apalagi beli bahannya ga gratis. Tapi lagi2 saat itu belum tahu beli kain flanel dimana. Hasil jahitan yang udah jadi kan dapet dari paket belajar yang v beli. Akhirnya ketemulah di FB sama teh Vita Eka Sandra yang tinggalnya di bandung juga. Pokoknya di add aja deh. Belum pernah sekalipun ketemu, tahunya Cuma di FB, tok! Sampai sekarang juga karena gagal terus tiap janjian mau ketemu. Berbekal SKSD dan muka tembok, bertanyalah padanya seputar flanel termasuk beli bahan di mana aja. eeeeh ternyata tempat yang sering didatengin belanja orang sebandung tuh ada segambreng toko craftnya. Hadeuh, jadi diriku selama ini ke mana aja? Walaupun tetep kalo dari rumah harus ke kota dulu buat nemuin toko craft itu, tapi seenggaknya udah tahu lah ya dimana dapat yang v cari.
Seiring berjalannya waktu v banyak belajar dari internet, blog walking, sampai ikut workshop bikin boneka saking penasaran pengen tahu cara tiap crafter menghasilkan karya mereka.
Alhamdulillah dari karya2 v ada yang suka walau tidak jarang setelah tahu harganya mereka urung membeli karena merasa terlalu mahal, maklum daerah tempat tinggal masih di kampung. Padahal udah kasi harga semurah mungkin dengan kualitas baik. Karena v juga orangnya ga suka kalo bikin karya asal jadi tapi ga kepake lama, kan sayang jadi mubadzir.

Ternyata keputusan v resign menjadi awal ujian baru di mulai. selang sebulan setelah v resign ternyata suami juga kontrak kerjanya diputus sepihak tanpa alasan yang jelas, alhasil kami berdua nganggur. saat itu usaha flanel v pun belum diseriusi, karena masih selalu kebingungan mau dipasarin kemana barangnya. Sampai berbulan2 suami belum jg dapet kerja, udah deh bantuin v bikin flanel aja. ternyata jahitannya udah lumayan rapi lho! Semua memang sudah Alloh rencanakan sedemikian rupa, sampai kita berdua rakjub dibuatnya. hehehe.
Ya akhirnya karena yang novi punya saat itu beberapa meter kain flanel sisa stok dulu yang belum habis, putar otak gimana caranya supaya flanel ini menghasilkan sesuatu, setidaknya untuk makan sehari-hari aja dulu deh. Saat itu menjelang ramadhan, orang2 lagi rame bikin toples hias flanel, tapi v ga ikut2an karena keterbatasan modal untuk beli toplesnya. Bener deh, saat itu bener2 negncengin iket pinggang. Akhirnya walaupun ga banyak, tapi Alhamdulillah ada yang terjual setidaknya  biar dapur tetep ngebul. Jadi selama ramdhan itu semua keuntungan termasuk modal dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Dan pada saat idul fitri tiba, karena tidak punya uang untuk diberikan ke sanak saudara seperti layaknya tradisi kita bagi2 angpao, v bagiin boneka flanel buatan v. Malu udah ga dipikirin lagi, habis mau gimana. kita berusaha sekuat tenaga apa adanya, tidak mau memaksakan sampai harus pinjam uang sana sini hanya demi sebuah pandangan manusia semata. Kadang pikiran buruk v yang terlintas adalah apa jangan2 ini karena orang tua ga ridho v keluar kerja ya? atau ini semua Cuma ujian supaya v lebih serius lagi usahanya? Galau lah saat itu antara lanjut nge-felt atau kerja kantoran lagi. Tapi dasar novi orangnya ga pernah dibawa ribet, jadi susah juga Alhamdulillah dibawa santai begitupun suami. Jadi kesulitan yang ada diambil hikmahnya supaya kita lebih bersyukur. Masih untung bisa makan juga. coba bandingkan di luar sana masih banyak yang lebih susah dan kekurangan.

3.      Bagaimana pendapat orang tua /suami /keluarga /teman/ tetangga dengan keputusan tersebut?
Tidak mudah untuk dapat dukungan penuh terutama dari orang tua. Mereka seperti kebanyakan orang tua lain maunya novi tetap kerja walaupun sudah nikah, apalagi belum ada anak. Mungkin karena mereka merasa sudah capek2 ngasih biaya kuliah v kali ya, eh ijazahnya dianggurin. Apalagi pas tahu novi fokus jadi tukang flanel, mereka mengecilkan usaha vi. Tapi ga apa2, keinginan mereka sebenarnya masih wajar dan itu bisa jadi penyemangat vi untuk membuktikan bahwa v bisa sukses walau hanya usaha beginian. Ya karena v ngasih tahunya setelah resign mereka dengan terpaksa mendukung, tapi tetap nyuruh untuk lamar kerja lagi. dan ini tidak v lakukan sampai sekarang. ^^
Suami sepenuhnya mendukung v resign, tapi tidak (atau belum ya) sepenuhnya mendukung fokus ke usaha flanel. Ngasih usul usaha yang lain saja yang lebih menjanjikan. Seperti kebanyakan orang, suami berpikir kalo flanel itu bukan barang konsumsi pokok seperti sembako, jadi katanya prospeknya lambat. Ga semua orang butuh, kalopun ada untuk orang  tertentu dan waktu tertentu aja. Tapi setelah merasakan sendiri ternyata flanel bisa menjadi solusi ketika kepepet, Alhamdulillah suami akhirnya mendukung termasuk dari segi materi. Kalo kurang modal untuk beli bahan, dengan senang hati beliau ngasi sumbangan dana, nganter belanja, gunting2 pola, bahkan ngejahit juga udah bisa, untuk kreasi yang mudah aja.
Kalau teman2 terutama teman kantor ga beda jauh sama orang tua menyayangkan keputusan v untuk berhenti kerja. Bahkan ketika mengajukan resign, supervisor sampai yakin bilang gini “sayang nov, daripada di rumah bengong ga dapet uang, mending di sini bengong juga di gaji” Haduh, kayak dia yg jamin rizki novi aja. Kalo inget itu jadi ngenes dan tambah semangat buat usaha flanel dan bisa ngasi bukti kalo kerja di rumah bisa menghasilkan.
yang lucu pendapat sepupu, dia orang yang dari kecil tahu bandelnya v kaya apa, cowok banget, tukang berantem, ga bisa masak, ga bisa jahit, pokoknya ga “cewek” banget. Dia bilang waktu v ngasih anaknya boneka buatan v, katanya dia ga percaya kalo v bisa jahit. lha wong dulu kalo kancing baju seragam v copot sama dia di jahitnya. hahaha.
Kalo tetangga sebagian sudah tahu v jualan flanel, kebanyakan hanya mengagumi tapi seperti biasa ga kuat di ongkos, hehe. Harus muter otak nih gimana caranya menghasilkan kreasi bagus dan terjangkau untuk kalangan mereka. ^^

4.      Menyesal ga ambil keputusan resign dan fokus ke flanel?
Mantap v jawab SANGAT MENYESAL.  Sangat menyesal kenapa ga dari dulu ketemu sama si flanel ini. Ga dari jaman kuliah gitu misalnya? Kan lumayan bisa nambah uang saku n uang beasiswa bisa dimanfaatkan untuk usaha ini aja. Tapi memang Alloh ngasih apa yang kita butuh ga pernah salah waktu.
Penghasilan minimal saja v bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi kalo v bisa lebih serius lagi. Bismillah… v bertekad mau memulai lagi semuanya dengan lebih serius, terarah, punya tujuan, dan lebih fokus. Kalau orang lain bisa, kenapa v enggak?

5.      Adakah peristiwa yang berkesan sejak mulai usaha tersebut (pasca resign)?
Banyak.
Dan yang paling berkesan adalah seringnya dapat pesanan ketika kepepet butuh uang. Ini terjadi beberapa kali, padahal v ga gencar promosi, eh yang pesen dari mana aja. ada yang Cuma tahu dari temennya aja dia udah percaya buat pesen ke v, padahal temen v sendiri belum pernah liat langsung karya v itu.
waktu v ada pesenan boneka miniatur Couple TNI yang gede dan mauny customer di pakein box mika. Ada rekomendasi teman pesan box di tempat A. karena pertama kali pesan ke sana si bonekanya dibawa juga biar ukurannya pas. Waktu itu si mas nanya
“Teh ini bikinan sendiri? dijahit tangan ya?”
“iya mas, buatan sendiri, jahit tangan semua” jawab v
terus si mas nya nanya harga n v jawab seadanya. Dia perhatiin tu boneka dan bilang tahu kualitas jahitan tangan, rapi. Pas tahu harganya dia bilang koq murah untuk kualitas buatan v, karena katanya lagi beberapa hari yang lalu temannya juga pesan box buat boneka flanel tapi bonekanya ga rapi2 amat. Memang harga punya novi dua kali lipat lebih mahal, tp masih kebilang murah kalo dibanding kualitas boneka pesenan temannya itu. sampai si mas nya minta no hp kalo2 suatu saat mau pesen.
Masih berhubungan sama boneka TNI ini, ternyata ga sengaja v ketemu yang COPAS karya v. Itu mah bener2 ga sengaja. Kata temen2 sesama crafter (emang udah layak gitu v disebut crafter? hehe), biarin aja… itu atinya karya kita bagus makanya diaku2in karya sang copycat itu.
Maap ya yg ini bukannya mau sombong atau narsis, tapi jujur penilaian si mas itu jadi buat v buka mata n semangat kalo ternyata masih ada –banyak malah- orang yang menghargai barang handmade di samping orang2 yang ga ngerti proses handmade itu seperti apa.

6.      Apa hikmah yang didapatkan dari resign dan mantap di jalan bisnis flanel?
Hikmahnya banyak banget dan yang pasti tambah ilmu udah jelas, novi jadi bisa jahit –lagi. ketemu sama crafter flanel yang oke punya n menginspirasi. Terdampar di grup2 flanel yang karyanya juga jempol semua dan kebanyakan adalah penjual Online.
Novi sendiri sedang merintis untuk jualan online karen kalau jualan offline di daerah tempat tinggal agak susah mendapatkan customer yang menghargai barang handmade. Maklum daya beli masyarakat di sini masi kurang, masih suka yang murah tapi pengen kualitas OK.
Dari awal novi memulai usaha flanel Cuma modal nekat, beneran nekat habis-habisan. Ga pernah nyangka sama sekali suami bakan di”rumahkan” ga lama setelah v memutuskan resign. Semua berawal dari kepepet butuh uang, tapi gimana caranya dapet uang yang halal. Alhamdulillah selalu Alloh kasi jalan keluar lewat flanel ini.
Memang ga jarang v ngerasa frustasi ketika sepi orderan, maklum usaha v masih baru dan belum dikenal, keinginan untuk balik ke meja kantoran sempat terlintas, sering malah. galau deh jadinya. Tapi setelah beberapa kali ditolong sama Alloh lewat flanel, jadi tambah yakin dan semangat untuk tetap berada di jalur ini.
Banyak orang2 sukses usaha flanel, jadi pasti novi juga bisa.
Ga mudah keluar dari zona nyaman dan memutuskan untuk berwirausaha (apalagi v orangnya moody banget), tapi di situlah v banyak belajar dan menyadari bahwa selama ini begitu banyak yang tidak novi tahu jika hanya bekutat dengan pekerjaan kantoran. Yang pasti semakin yakin kalo rizki dari Alloh itu luas dan datang dari arah yang ga disangka2. Secara materi memang belum signifikan peningkatannya, tapi perjuangan, semangat dan pengalaman itu lebih besar  nilainya dari sekedar banyaknya uang.
Kalaupun v kerja saat keadaan keuangan keluarga sedang kurang, tidak ada salahnya dan diperbolehkan karena alasannya syar’i. Tapi kenapa v masih bertahan di flanel ini? Jujur v Cuma bisa bilang “entahlah, kalau sudah cinta mau dikata apa? Dan lagi2 Alloh yang membiarkan hati v untuk terus mencintai yang v kerjakan saat ini”, yang ini mah asli lebay ^^

Semoga bisa jadi penyemangat dan reminder v ketika suatu saat merasa down lagi, v ingat kembali perjuangan v dari awal tidaklah mudah. Mungkin sebagian cerita terlihat agal lebay dan didramatisir, tapi percayalah itu pengalaman v sebenarnya. Dan semoga yang sedang galau antara kerja dan ngefelt segera memutuskan jalan yang benar secepatnya… hehehe.
-Novi-


Mantap kan teman-teman?! ^^v


Semoga menginspirasi… (Kalau setelah membaca artikel ini teman-teman semakin galau dan ruwet, gunakan es batu (dari es teh) untuk mengompres dahi..) X-)

Thanks to Belinda Jacellyne Shop, Novi Cuyati, dan mungkin akan di tambah lagi oleh crafter yang lain  =)


Finally... Nasib Blog Nupinupi di Lomba Blog Majalah Sekar

Posted by Nupinupi at 02.25
Reactions: 
5 comments Links to this post
Lumayan terlambat untuk berbagi kabar tentang hasil Lomba Blog Majalah Sekar. Tapi tidak apa-apa, dari pada tidak ada beritanya sama sekali ^^v

Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih kepada teman-teman Nupinupi yang kemarin sudah bersedia meluangkan waktu, memberikan vote untuk blog Nupinupi supaya terpilih -paling tidak- juara favorit dalam Lomba Blog Majalah Sekar, yang merupakan salah satu rangkaian acara SWOMA 2012 (Sekar Womenpreneur Awards).

Tanggal 4 November 2012, saya di undang Majalah Sekar untuk menghadiri penjurian dan penganugerahan SWOMA 2012 dan Pengumuman Lomba Blog Sekar di Gedung FX Sudirman Lt. 3 Jakarta Pusat.

Dan hasilnyaa... Baik Pemenang Utama maupun Juara Favorit, lewat. hehehehe.... Kecewa? tentu. Tapi skalanya kecil. Karena sejak awal saya sudah feeling, bukan blog saya yang terpilih. Underestimate dong? Bukan, tapi realistis (ngeles :p). Sebelumnya kan saya sudah blog walking ke blog para finalis. Dan "Wow"...blog mereka bagus-bagus :'(
Saat itu juga saya berpikir, "kok bisa sih blog Nupinupi masuk finalis 10 besar?" Hahahahaha.

Tapi, meskipun begitu...saya tetap datang ke Jakarta. Bukan untuk harapan menangnya -siapa tahu?-, tapi pengalamannya (klasik banget sih alasannya.. -_- ). Jadi, ketika tahu tidak mendapat juara apapun, tidak ada rasa "huh, sudah buang-buang waktu dan uang nih!"

Yang pasti, saya mendapat souvenir dan goodie bag... $)

Isi goodie bag : Majalah Sekar, blocknote, bolpen, Kiranti (sudah habis), dan kue brownis (juga sudah tidak ada bekasnya) + foto
Selain itu, saya juga mendapat pelajaran...kenapa blog saya saya kalah, dan apa kelebihan blog-blog finalis yang menjadi pemenang.

"Semangat untuk terus memperbaiki blog Nupinupi dan ikut lomba blog lainnya..." ^^v






 

nupi-nupi Copyright © 2012 Design by cutelittleowl.com