Senin, 02 Desember 2013

JPB (Jiplak Plek Bingits)

Posted by Nupinupi at 20.58
Reactions: 
4 comments Links to this post
Sepertinya permasalahan ini tidak ada matinya di dunia kreatif dan bisnis. Dan masalah ini juga sering 'diributkan' di komunitas crafter. Karena menyebabkan rasa terancam si kreator, rasa tidak terima karena hasil kerja kerasnya ditiru dengan mudahnya oleh orang lain, dan rasa-rasa lain. Pernah merasakan? :)

Prosentase paling banyak adalah alasan ---> hasil kerja kerasnya ditiru.
Dia kemudian merinci biaya yang telah dikeluarkan untuk mewujudkan ide tersebut (ditambah embel-embel bahwa itu adalah ide orisinalnya)
Memang, plagiat itu sangat tidak baik, tidak tahu malu, membunuh kraetifitas, dll. Tapi, "Who's care?" Toh hal-hal tersebut tidak menyurutkan langkah para plagiator untuk terus menjiplak. Apalagi jika sudah dikaitkan dengan bisnis. Masa bodoh! Yang penting laku ini. Nah, tindakan apa yang akan dilakukan...kembali ke sang kreator. 
  • Apakah dia akan menghabiskan energi dengan mencak-mencak, berkeluh kesah, menjelek-jelekkan orang tersebut di hadapan orang banyak, atau bahkan melabrak, atau...
  • Dia tetap terus berkarya, sambil memikirkan tindakan preventif, agar produknya tidak mudah dijiplak
*Saya tidak membicarakan plagiat untuk hal penting/besar. Hanya masalah plagiat di komunitas crafter dan onlineshop-nya

Setahu saya, seorang kreator (seni) sejati tidak pernah memusingkan pembajakan karya-karyanya... Dia akan terus fokus ke penciptaan karya-karya baru. Kalau anda mengaku sebagai kreator, tapi baru dijiplak sekali atau dua kali sudah "geger"...bisa jadi, memang biaya uji cobanya mahal sekali, atau anda kreator pemula (makanya, baru dijiplak "dikit" sudah koar-koar), atau produk itu sebenarnya juga menjiplak karya orang lain. #waa...menusuk sekali. 
Tapi itu kenyataan.... ^^

Menurut saya, tidak ada yang benar-benar orisinal di dunia ini, selain dunia ini sendiri (ciptaan Alloh SWT). Apalagi di dunia kreatif. Suatu pemikiran kreatif pasti terinspirasi dari hal lain, entah itu berhubungan atau tidak sama sekali.

Jadi, kalau ada yang mengklaim... "Itu kan ide orisinal saya.." Oo ya?? Benarkah? Ciyus? Enelan? Saya yakin, ori-nya hanya sebagian, sebagian lainnya tetap hasil meniru/terinspirasi kreasi orang lain. Jadi, kenapa anda merasa dirugikan habis-habisan?! Toh anda bisa menciptakan kreasi tersebut juga berkat "bantuan" orang lain.

Kreatifitas itu seperti mata rantai, dari otak manusia satu ke otak manusia lain saling berhubungan. Dia juga seperti energi yang berjalan kesana-kemari. Jika dia (kreatifitas) menghinggapi otak yang sering diasah (atau sering kita sebut kreatif)...bisa jadi ide/inspirasi tersebut menjelma menjadi barang yang benar-benar baru. Sebaliknya, jika yang dihinggapi adalah otak yang jarang diasah, yaa biasanya jadinya sama plek.
Tapi, menjadi barang baru atau sama persis juga berawal dari ide orang lain kan?!

Lalu, masalah mewujudkan ide kreasi yang membutuhkan banyak waktu, tenaga dan biaya, dan tiba-tiba dijiplak orang lain dengan gampangnya (sebenarnya menjiplak juga tidak segampang itu sih, butuh mental kuat dan muka tebal. Karena harus siap di komplain oleh sang kreator). Karena si plagiator melihat, barang itu laku keras. Bisa menjadi peluang usaha. "Apakah saya tidak berhak marah?" Ooo..berhak doong. 
Tapi tolong tanyakan pada diri sendiri, 
  1. Benarkah itu murni ideku? atau itu juga cuma hasil menjiplak karya orang lain? #Ngaca dong
  2. Benarkah aku marah karena merasa rugi? Rugi apa? Atau sebenarnya hanya takut kalah saing dengan si penjiplak?
  3. Apakah marah-marah, berkeluhkesah itu menyelesaikan masalah?
Di dunia kreatif, apalagi bercampur dengan dunia bisnis, jiplak menjiplak itu hal yang wajar (meskipun salah)...sunatullah. Kalau di muka bumi ini tidak ada plagiarisme, mungkin dunia akan sepi, dan kreatifitas akan musnah. Benar? Jadi, woles ajalaah...
Kalau memang tidak mau dijiplak, buat barang/kreasi serumit mungkin, sehingga orang males banget mau menjiplak, meskipun barang tersebut laku keras. Atau, dipatenkan sekalian kalau punya uang.

Ini bukan berarti saya masa bodoh dengan penjiplakan ya. Saya peduli, tapi saya lihat dulu levelnya. Kalau plagiator cuma level pemula, paling saya jempoli saja fotonya, atau saya komentari..."waah..bagus ya...." hahahahha. Padahal itu foto saya. Karena, lebih baik saya mengurus hal lain yang prioritasnya lebih tinggi, ya kan?! Tapi, kalau si plagiator sudah level kebangetan...tentu saya akan bertindak.

Saya memaklumi, plagiarisme di dunia craft/seni itu sangat elastis peraturannya. Maksudnya, apa dan bagaimana itu tergantung situasi dan masing-masing personal. Tidak ada kebakuan aturan kecuali satu-dua aturan. Salah satunya tidak boleh meng-copas foto untuk diklaim itu miliknya. Saya memaklumi, tapi bukan berarti mendukungnya. Saya tetap akan men-cap..."tuh orang bodoh", karena punya hobi plagiat (kasus jiplak desain JPB ----> Jiplak Plek Bingits). Kalau itu dilakukan terus-terusan, kapan pinternya?! Selamanya dia akan menjadi follower...tak lebih. Hanya seperti butiran pasir di padang pasir luas. Tak terlihat, karena memang sama dengan lainnya, tak ada yang istimewa/menonjol. Mau menonjol? Ubah diri menjadi batu atau semak. Lebih menonjol lagi,menjadi oase... Jelas itu akan menjadi magnet, sekaligus bermanfaat bagi makhluk lain yang kehausan.

Paket Belajar Flanel Nupinupi itu adalah usaha saya untuk memproteksi penjiplakan produk/kreasi Nupinupi. Dulu saya sering kesal, karena kreasi-kreasi saya (yang saya klaim orisinal ^^v #beberapa), dari foto sampai desainnya di copas. Tapi saya menyadari, itu risiko "menaruh" foto di internet. Kalau saya tidak mau foto-foto saya di copas, jangan di uplod di internet.
Tapi saya butuh menguplod foto-foto produk saya di internet supaya bisa menjualnya. Bagaimana caranya, supaya saya asik-asik saja meskipun desain saya di copas? "Aha!" Jual saja desainnya. Mau di copas modelnya? Monggooo... Sudah di bayar ini. Tapi kalau yang meniru desainnya bukan pembeli PBF? Tak masalaah. Dia malah bantu populerin desain saya dengan menjiplaknya ^^

Coba kalau saya dulu cuma sibuk melabrak satu-satu orang yang meng-copas foto atau menjiplak desain kreasi saya? Saya tidak akan seberuntung sekarang, hehehehe....

Sebelum saya akhiri, supaya tidak banyak pertanyaan seragam, "Siapa sih plagiator yang dimaksud dalam tulisan ini?" Kalau teman-teman hanya menyimpan foto produk, lalu di contoh untuk belajar sendiri, itu sih bukan plagiator. Itu memang bagian dari proses belajar seorang crafter. Meniru dulu, baru kemudian mampu menciptakan model sendiri... Lalu, kalau produk tiruan tersebut juga dijual? Kalau saya pribadi, tak masalah. Karena memang Paket Belajar Flanel Nupinupi atau tutorial gratisnya boleh dijiplak dan hasil kreasinya dijual. Karena biasanya kita tahu, "ooh..ini pencetus idenya adalah si A". Yang tidak boleh adalah meng-copas foto-foto saya, baik foto kreasi maupun foto bahan, lalu diklaim itu kreasinya. Lalu, yang seperti apa yang tidak boleh? Apaa yaa? Hahahaha, saya sendiri juga bingung, karena standarnya tidak akurat, dan sifatnya fleksibel. Asal pencipta desain mengijinkan, halal - sah... Tapi kalau tidak, haram, dan kadang mendapat tambahan makian. Hehehe.

Yah, mungkin kita yang harus pandai-pandai memilah, seperti ini boleh atau tidak, seperti itu merugikan pencipta ide awal atau tidak, seperti ini mengganggu orang lain atau tidak. Memang tidak ada aturan tertulis atau aturan jelas, tapi semestinya kita bisa memahami, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Caranya mudah, jadikan diri sendiri sebagai patokan. Kalau orang lain melakukan hal ini terhadap saya, saya bisa menerima/marah tidak? Kalau anda sendiri pencontek, lalu ada orang lain yang mencontek kreasi anda, dan anda marah-marah...ada yang tidak beres dengan otak anda. 

Setuju, tidak setuju...tetap akur ^^v


Sejauh-jauhnya penjiplak, dan setidaknyambungnya bahasa, tetap ketahuan

#Order silakan melalui inbox FB Paket Belajar Flanel



Salam kreatif,

Selasa, 12 November 2013

OFFLINE sementara

Posted by Nupinupi at 17.43
Reactions: 
2 comments Links to this post
Hallo... Untuk sementara, kami offline dulu ya.. Pindahan kantor. Insyaallah online kembali senin depan.Terimakasih :)


Salam,


Senin, 28 Oktober 2013

Tidak Masuk Akal

Posted by Nupinupi at 21.56
Reactions: 
12 comments Links to this post
Melanjutkan tulisan saya, hati-hati dengan keluhan anda, hati-hati dengan pikiran anda. Ada hal-hal menarik...yang semakin menguatkan keyakinan saya, bahwa semua memang sudah diatur dengan baik oleh-Nya. Perkembangan terakhir, Nupinupi harus legowo “ditinggal” oleh 2 orang pegawai. Karena alasan masuk akal, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan yang satu, ibu RT yang sudah mulai sibuk karena anaknya ikut banyak les (antar jemput). Oke, tak masalah. Meskipun kalau dilihat, waktunya tidak tepat. Di saat saya harus memantau Nupinupi secara jarak jauh, malah ditinggal pegawai resign. Jujur, saya sempat  “meratapi” hal ini, tapi alhamdulillah hanya sehari. Setelah itu segera berpikir langkah selanjutnya. Salah satunya membuat brosur lowongan yang akan saya titipkan ke teman yang bekerja di Pusat Grosir Solo.  Logika saya, selain lebih mudah dan cepat, juga tepat sasaran. Karena yang saya butuhkan adalah lulusan SMA/sederajat.

Galau? Tentu saja sangat galau. Bagaimana Nupinupi akan berjalan baik, kalau pantauan jarak jauh, fokus terbelah, dan pegawai tinggal 1?!

Cerita di mulai sejak setahun yang lalu, saya mencari-cari kontrakan yang cocok untuk kantor Nupinupi. Karena rumah saya sudah tidak muat, dan capek bersih-bersihnya. Lagipula, pikiran juga capek, karena seolah tidak pernah berhenti bekerja. Serasa di “kantor” meskipun hari sabtu-minggu/libur.

Kriteria kontrakan yang cocok menurut saya :
  1. Dekat rumah, atau kalau perlu 1 komplek, supaya saya tidak harus punya -2 rumah tangga-
  2. Harga sewa terjangkau (sesuai pasaran di sekitar situ)
  3. Ada teras/garasi untuk parkir sepeda motor para pegawai.
Tapi...ternyata tidak semudah yang saya kira. Padahal dulu depan rumah pas, dikontrakkan. Sampai lama tidak ada yang minat (saya juga belum kepikiran punya kantor sendiri untuk Nupinupi). Di komplek perumahan saya, dulu ada 3 rumah yang dikontrakkan. Giliran saya butuh, tidak ada satupun yang kosong. Lalu saya cari-cari di luar komplek, ada dua rumah di komplek belakang. Yang satu bagus, tapi amat sangat mahal. Yang satu sangat murah, tapi kumuh. Oke, mundur. Akhirnya di kompleks saya ada yang pindah...lalu rumahnya dikontrakkan. Ini diaaa.....!! Dengan penuh semangat saya menghubungi pemilik kontrakan. Saya pikir harga sewanya akan sama seperti biasanya. Ternyata, menjadi 2x lipat. Ya alloh... (kecewa). Suami saya bilang, “Di tunggu aja, ntar juga turun sendiri kalo tidak ada yang mau ngontrak. Kemahalan soalnya.” Oke...saya setia menunggu (harga turun). Tapi bukannya turun, malah ada yang mau ngontrak. Katanya teman pemilik rumah yang mau ngontrak. Aduuh... Dalam hati saya bilang (lebih tepatnya protes sih), “Ya Alloh, saya kan sudah berdoa, memohon kepada-Mu supaya diberi kontrakan yang cocok. Kenapa susah sekali cari kontrakan. Sebenarnya rencana-Mu apa?” Itu yang saya pikirkan sejak 1 tahun yang lalu. Masalah pegawai juga sama. Katanya cari pekerjaan susah, tapi nyatanya...cari pegawai juga sangat susah. Nah...untuk sementara waktu, mari kita katakan, bahwa usaha saya mencari kontrakan dan pegawai belum maksimal.

Cerita selanjutnya adalah, saya harus merawat bapak mertua yang sakit kanker, dan entah sampai kapan saya akan menjadi perawat fulltime. Beberapa minggu yang lalu, ketika pegawai saya mengatakan akan mundur, migrain saya kambuh. Ditinggal 2 pegawai...tidak bisa saya bayangkan “kekacauan” Nupinupi. Mana pegawai yang tersisa, bulan Desember insyaallah akan menikah.

Kalaupun saya merekrut pegawai baru, bagaimana saya bisa mentrainingnya. Karena waktu saya sangat terbatas, dan tidak bisa setiap hari “ngantor”. Dan lagi, sekarang saya tidak pernah lagi berkreasi. Barang di sana, orangnya di sini. “Kenapa tidak di bawa sebagian?” Sebagian itu seberapa? Padahal kalau saya sedang membuat kreasi, sifatnya spontanitas. Ketika saya membuat desain, saya pikir memakai bahan/aplikasi A cocok. Tapi ketika praktek, ternyata tidak cocok...saya harus mencari bahan/aplikasi lain yang cocok kan?! Maka, repot kalau antara saya dan bahan berjauhan/terbatas.

Terbesit wacana pindah kantor di sekitar rumah ortu, supaya pemantauan lebih dekat dan proses pembuatan kreasi juga bisa berjalan kembali. Tapi di mana? Dan haruskah pindah? Karena kalau pindah, selain repot juga mengeluarkan biaya besar. Banyak sekali plus minusnya kalau pindah.
Sebelah kiri rumah ortu saya, dinyatakan akan dikontrakkan. Harga sewanya lebih mahal dari harga pasaran. Makin malas saja saya untuk memutuskan pindah. Tidak ada ketertarikan lah pokoknya. Tapi tentu saja saya tetap khawatir, per November pegawai saya tinggal 1. Kalau tidak pindah bagaimana?!

Pada saat yang sama, tetangga sebelah kanan saya menikah. Istrinya “calon pengangguran” yang berniat setelah menikah akan mencari kesibukan. Dan dia bersedia kalau saya rekrut. Tapi ini juga belum terlalu saya pikirkan. Karena dia maunya kerja di sekitar rumah saja. Kalau harus ke kantor Nupinupi di Sukoharjo, agak keberatan. Padahal kan saya masih ragu, pindah atau tidak. Ditambah, pegawai lama yang keberatan kalau kantor Nupinupi pindah (ada indikasi, dia akan keluar kalau merasa kejauhan dari rumahnya). Bingung banget kan... X_x

Saya memohon petunjuk pada-Nya, pindah atau tidak. Dalam hati, sangat berat kalau harus pindah “kantor” di sekitar rumah ortu. Sampai berhari-hari saya galau dan menanti-nanti petunjuk-Nya. “Mana nih petunjuk-Nya? Kok gak kliatan-kliatan? Apa aku yang kurang jeli?” Hehehehe.

Lalu saya sharing dengan teman crafter, yang kalau saya sebut namanya, pasti teman-teman kenal, karena dia memang populer, dedengkot grup craft. Hahahahaha.

Beliau mengatakan, “Kadang petunjuk itu berupa kemudahan-kemudahan yang disediakan oleh-Nya” “Ikuti kata hatimu, jangan pikiranmu.” Ooh ya?? Hmmm...apa saja kemudahan itu? Kontrakan di sebelah kiri rumah ortu? calon pegawai baru yang rumahnya di sebelah kanan rumah ortu? Tapi nanti kalau pegawai lama saya malah mundur, pegawai saya cuma satu, ngajarin dari nol lagi... Kata hati? Kata hatiku, kewajibanku sekarang adalah merawat bapak mertua.
Tidak, petunjuk-petunjuk itu belum meyakinkan. Tegas saya dalam hati.

Beberapa waktu kemudian, si pemilik kontrakan dekat rumah ortu menelfon, harga sewa diturunkan, seperti harga pasaran. Kemudahan  dan petunjuk lagi? Hmmm...masih belum yakin.

Lalu, saya curhat dengan teman saya (bukan crafter). Dia sahabat saya sejak kuliah. Juragan jamu di daerah Sukoharjo. Saya tidak tahu dia punya truk (padahal sudah sewajarnya dia punya truk, hahahaha). Dengan enteng dia bilang, “Kalau nanti jadi pindahan, pakai aja truk-ku. Sama sopirnya sekalian, karena jarang orang bisa nyetir engkel/truk.”... Masih dengan malas, “Iya deh... tapi ini belum pasti kok”... Masih belum yakin dengan (atau lebih tepatnya tidak mau menerima) tanda itu. Hahahahaha. #ngeyel.

Setelah sempat menyalahkan keadaan karena pusing tingkat lanjut (akibat tidak mau menerima kenyataan sih sebenarnya), terngiang-ngiang terus kata-kata sohib crafter saya, petunjuk bisa jadi berupa kemudahan-kemudahan. Apa iya ya? Kontrakan di sebelah kiri rumah yang harga sewanya terjangkau/diturunkan, calon pegawai di sebelah kanan rumah, pinjaman truk + sopirnya gratis.... Apa lagi?  Kalau saya pindah, saya bisa memantau Nupinupi secara langsung, dapat pegawai baru, bisa kembali membuat kreasi dan tutorial, sekaligus bisa merawat bapak mertua. Bagi saya, ini semua tidak masuk akal kalau hanya kebetulan. Akhirnya saya mantap untuk pindah kantor.

Sekarang saya paham, kenapa kemarin-kemarin saya harus merasakan kesulitan-kesulitan ini :
1.  Sulit mendapat kontrakan yang cocok
2. Sulit mendapat pegawai, padahal katanya banyak orang yang butuh pekerjaan
3. Belum diberi momongan sampai tahun ke-4 pernikahan
Dan lain-lain. 

Ternyata seperti ini rencana-Nya. 
1. Coba kalau saya dulu sudah mendapatkan kontrakan di sekitar kantor lama Nupinupi, apa saya tidak pusing memikirkan 2 rumah yang jauh?! 
2. Coba saya dulu mendapat pegawai yang rumahnya sekitar Solo/Sukoharjo (keinginan saya dulu begitu), mungkin sekarang saya akan super sangat berat untuk pindah kantor di sekitar rumah ortu, atau bahkan tidak kepikiran. Sehingga akan tetap memantau Nupinupi jarak jauh (dan itu pastinya tidak bagus untuk perkembangan Nupinupi). 
3. Coba saya sekarang saya sudah punya anak. Pusing mikir bisnis, merawat anak dan pasien. 

Ternyata akan jauh lebih ruwet kalau semua atau salah satu saja dari permohonan saya dulu terkabul pada saat itu juga. Sekarang saya tinggal pusing memikirkan dana untuk sewa kontrakan. Hahahaha. Yah..berdoa sajalah, semoga minggu ini banyak pelanggan baru/lama berdatangan, sehingga uang di rekening cukup untuk melunasi sewa kontrakan 1 tahun dan belanja bahan bulanan. Aamiin.

Nah...hikmah apa yang teman-teman dapatkan setalah membaca kisah yang bertele-tele ini? Saya tunggu komentar teman-teman... ^^, 



Salam penuh semangat, 

Selasa, 08 Oktober 2013

PBF Baru?? Belum pasti....

Posted by Nupinupi at 23.36
Reactions: 
8 comments Links to this post
Kenapa belum pasti? karena ada beberapa bahan yang ternyata susah restock. Padahal bahan itu akan terus dibutuhkan untuk melengkapi bahan paket belajar. Sedang mencari-cari bahan alternatif :)
Beberapa desain kreasi saya contoh dari kreasi orang lain yang bertebaran di google. Tapi tentu saja, 100% pola dan ukuran saya buat sendiri. Seperti biasa, 99,9% bahan flanel dan 100% jahit tangan ^^

Kalau ada pertanyaan, kapan diluncurkan? Hmmm, belum pasti. Tapi sepertinya masih lama... Bisa 1 - 2 bulan lagi. Hehehehe. Keburu di contek orang doong... Silakaan, lagipula saya juga cuma nyontek kok ^^v

1. BIRDIE HOUSE



 2. OWL IN THE MIRROR




3.CINCIN RAINBOW




4. ANTING SARANG BURUNG






5. FLOWER CROWN

 



6.BANDO SERUNI




7. JEPIT SERUNI






8. BROS CUPCAKE


9. BROS TERATAI




10.JEPIT FLORA





11. MESSENGER GIRL



12. SLEEPY TEDDY




13. HONEYMOON ON THE CLOUD



14.WELCOME BIRDIE






Salam,

Rabu, 02 Oktober 2013

Hati-hati Dengan Keluhan Anda! Hati-hati Dengan Pikiran Anda!

Posted by Nupinupi at 21.55
Reactions: 
16 comments Links to this post

Sebagai manusia, setiap saat kita berpikir. Berpikir macam-macam, ada yang positif, ada yang negatif. Nah, yang paling sering adalah pikiran negatif, sadar atau tidak sadar.

Pikiran negatif itu biasanya berupa prasangka buruk, kesombongan, dan (paling sering) adalah KELUHAN. Terucap maupun dalam hati.

Kita semua tahu, bahwa hal tersebut buruk. Karena itu adalah penyakit hati. Yang namanya penyakit itu bahaya kalau dibiarkan. Tapi sayangnya...kita sering tidak merasa/menyadari, bahwa kita “penyakitan”... Kita malah “memelihara” dan menyuburkannya. Sampai kemudian harus diobati oleh-Nya dengan teguran.

Beberapa waktu yang lalu, saya bercerita..bahwa sekarang saya adalah suster/perawat fulltime bagi bapak mertua yang sakit kanker nasofaring stadium 4. Ini ternyata bukan sekedar ujian, tapi juga teguran bagi saya. Selama ini saya memendam banyak keluhan, yang setiap hari saya gumamkan dalam hati. Dan sekarang...keluhan dan andai-andai saya, dikabulkan oleh-Nya, dengan cara yang tidak terduga.

Ini daftar keluhan saya :
  1. Rumah saya adalah sumah kantor. Eh bukan, gudang kantor, hehehehe.... Karena sangat penuh dengan barang-barang dagangan. Saya selalu berpikir, bahwa saya tidak suka rumah saya itu. Sumpek, panas, dan membuat saya capek saja. Setiap hari saya harus jadi OG setelah semua pegawai pulang. Saya sebal dengan rumah saya itu, saya lebih suka dan nyaman di rumah ortu saya yang lega. “Seandainya saya bisa setiap hari di rumah ortu terus, enak pasti..” Dan...Alloh mengijabah.
  • Sekarang saya harus di rumah ortu terus, karena perawatan bapak mertua paling efisien di rumah ortu saya.
  • Sekarang saya tidak lagi capek jadi OG setiap hari, karena memang saya hanya bisa menengok rumah saya seminggu sekali, itupun hanya sebentar.
  • Ternyata, saya sangat merindukan rumah saya itu, rindu sapu, pel, dan tempat sampah di rumah itu. T_____T   
 
ilustrasi tambahan saja, supaya tidak bosan.. :)
2.   Hampir setiap hari saya mondar-mandir antarkota, antarpropinsi untuk belanja atau mengurus toko kerudung. Dalam hati, saya mengeluh. “Seandainya saya tidak perlu melakukan hal ini.. Saya cukup duduk manis, semua dikerjakan dan dibereskan oleh pegawai-pegawai saya, pasti asik”. Dan...Alloh mengijabah.
  • Sekarang saya benar-benar hanya duduk manis di rumah, tidak bisa kemana-mana. Semua urusan OS sepenuhnya ditangani pegawai-pegawai saya. Tapi saya “duduk manis” di rumah bukan untuk santai. Saya harus menyiapkan makan, obat, jus, susu, terapi herbal dan keperluan pasien lainnya. Suami saya bekerja di luar kota, ortu saya juga bekerja, saudara semua jauh. Siapa lagi kalau bukan saya?! (alhamdullilah saya jadi pengusaha, kalau PNS atau pegawai kantoran?!)
3.  Setiap hari saya ada di luar rumah terus. “Kalau seperti ini terus, kapan saya bisa mengurus menejemen, membenahi blog, membenahi aturan-aturan OS yang sudah tidak relevan lagi, dan masalah-masalah teknis lainnya? Dan ini pun di respon oleh-Nya. Sekarang saya setiap hari hanya bisa duduk di depan laptop untuk memikirkan masalah-masalah tersebut, sambil menggodog ramuan  herbal.
4.     Berat badan saya over 10 kg. Saya ingin kembali langsing ideal seperti sebelum saya menikah. “Ya Alloh, saya ingin langsing”.... Dan sekarang saya melangsing. Sudah turun 4 kg. Kurang 6 kg lagi, saya mencapai berat ideal, tanpa olahraga. Hahahahaha. *Ups
Dan masih banyak lagi...

Dalam hati saya menangis. “Ya Alloh, kenapa Engkau kabulkan/beri solusi semua keluhanku dengan cara seperti ini? Kenapa tidak dengan cara yang menyenangkan?”.... Hehehehehe. Intinya, selama ini saya KUFUR NIKMAT.

Ini daftar kufur nikmat saya :
  1. Nikmat waktu yang saya sia-siakan... Suka sekali tidur. Dan CAPEK atau “besok saja” adalah excuse bagi saya.
  2. Nikmat punya rumah
  3. Nikmat pekerjaan yang ternyata sangat saya cintai, dan mungkin orang lain inginkan, meskipun melelahkan. Sekarang...setiap saya merasa letih/lelah, saya bersyukur. Karena seharian saya bisa beraktifitas, tidak hanya –harus- tiduran saja.
  4. Nikmat kebebasan yang tidak saya sadari. Kurang bebas apa, hari ini saya di Jogja, besok sudah ada di Semarang, lusa sudah berangkat ke Jakarta, dst. Sekarang...saya mau ke apotik saja harus menunggu setelah jam makan, dan itupun tidak lama-lama. Karena setiap 1 atau 2 jam, bapak harus meminum jus/susu/obat herbalnya. Kenapa bergantung sekali kepada saya? Karena makan/minumnya lewat sonde (selang di hidung), tidak bisa menelan makanan/minuman.
  5. Nikmat sehat. Ini yang paling sering kita lupakan. Mengeluh masalah ini-itu. Dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Sampai di buat status lagi...(antara mengeluh atau  sebenarnya pamer, saya tidak tahu). Sekarang....saya sangat bersyukur. Saya bisa menghirup udara gratis lewat hidung saya dengan normal. Karena di depan saya, ada manusia yang bernafas harus lewat lubang buatan di tenggorokannya (trakeostomi). Sekarang....saya makan lauk tempe saja sudah membuat saya hampir menangis bahagia. Karena saya bisa mengunyah dan menelan makanan dengan nyaman, bisa merasakan gurihnya,dan tanpa rasa sakit. Sekarang...setiap pergi keluar, saya bersyukur sekali, bisa kesana-kemari dengan tubuh saya yang sehat ini.
Teman-teman crafter, apapun hal yang tidak kalian sukai, tapi setiap hari harus kalian hadapi, cobalah untuk sedikit demi sedikit melihat sisi positifnya. Sehingga kita bisa mulai menyukai dan kemudian mensyukurinya. Jangan sampai kita menyadari bahwa sesungguhnya itu adalah sebuah nikmat, tapi sudah terlambat. Karena Dia terlanjur mencabutnya dari hidup kita. Hal-hal sepele/sekecil apapun, cobalah untuk merenunginya terlebih dahulu, sebelum kita mengeluhkannya dan apalagi membesar-besarkan ketidakterimaan kita terhadap hal yang tidak kita sukai itu.
  • Tentang pelanggan yang rewel/rese, alhamdulillah yah, kita punya pelanggan. Dan kalau mau menstatistik, pelanggan yang baik pasti lebih banyak daripada pelanggan yang rewel
  • Tentang rasa capek, bahkan sampai ingin muntah, karena orderan menumpuk dan kita belum punya asisten. Alhamdulillah, banjir order. Belum punya asisten karena memang belum waktunya (Ingat, Alloh selalu tepat waktu dan memberikan yang terbaik)
  • Tentang kreasi (yang menurut kita paling keren dan itu adalah ide orisinil kita) di contek oleh crafter lain. Alhamdulillah, berarti kreasi kita memang bagus. Ayo cari ide lain lagi... Kalau di contek lagi? Ya cari ide dan buat yang lain lagi. Kita tidak rugi apa-apa kok, yang ada malah tambah pinter/kreatif.
  • Tentang pelanggan yang tanya-tanya terus, tapi tidak belanja. Alhamdulillah, kita punya usaha, ada pelanggan, ada yang tertarik (meskipun tidak beli). Kalau anda merasa rugi karena hal itu, tidak usah buka usaha. Jadi tidak akan ada pelanggan yang tanya-tanya, apalagi hit and run.
  • Tentang pesaing, yang menurut kita lebih bagus/mengancam popularitas kita/meniru ide kita.... Hari gini masih meributkan hal seperti itu? Sudah kuno! Persaingan itu wajar, bahkan di segala bidang kehidupan, harus ada persaingan..supaya kita selalu move on.Alhamdulillah, ada pesaing...kita harus belajar lebih banyak lagi, kita harus lebih inovatif, dan kita harus lebih lainnya lagi.
  • Ingin belajar membuat kreasi flanel dan memulai usahanya, tapi tidak punya dana cukup. Ini sepatutnya tidak dikeluhkan, tapi di cari solusinya. Mulailah belajar... Tidak punya uang? Mulailah dari yang gratis. Malas? Ya sudah..tidur saja.
Sesungguhnya, keluhan-keluhan kita itu hanyalah menunjukkan betapa malas/enggannya kita untuk bergerak... Itu saja.

Semoga sedikit pengalaman saya ini bisa membakar kembali semangat teman-teman, dan mulai untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya yang ternyata berlimpah. Saya juga minta doa dari teman-teman, supaya kami bisa melalui ujian ini dengan baik. Terimakasih.



Salam,

Sabtu, 28 September 2013

Rit Meteran dan Kepala Rit Nikel

Posted by Nupinupi at 20.52
Reactions: 
0 comments Links to this post
Biasanya pakai resleting (rit) jadi, yang sudah ada ukurannya. Jadi barang yang akan kita buat juga harus menyesuaikan ukuran rit jadi tersebut. Kalau ukuran barang lebih kecil, sementara rit nya lebih panjang, harus di potong. Padahal, rit jadi sudah ada ukuran minimalnya. Kadang-kadang, pelanggan tanya ukuran rit yang lebih kecil lagi. Tentu saja tidak ada.. :) Nah, sekarang Paket Belajar Flanel menyediakan rit meteran dan kepala rit nikel. Jadi lebih hemat, karena bisa di potong sesuai kebutuhan. Dan harga lebih murah tentunya. Yang asik lagi, ada kepala rit berbagai bentuk, jadi dompet/tas buatan kita lebih menarik... ^^

kepala rit nikel
kepala rit nikel
kepala rit nikel
rit meteran, warna tersedia : merah, pink, kuning, bimud, hitam, putih

CARA MEMASANG :
1. Buka tautan rit. Pasang kepala rit di salah satu ujung rit..sedikit saja yang penting sejajar helai kanan dan kirinya. Harus sejajar ya, supaya panjang kanan kiri sama.

memasang kepala rit

2. Kalau sudah masuk...posisi helai rit kiri agak ditumpuk pada helai rit kanan/sebaliknya. Itu dilakukan, agar ketika kepala rit ditarik, kedua helai rit saling mengait. Kalau kepala rit di tarik tapi kedua helai rit tersebut tidak menyatu, ulangi lagi...






3. Kadang-kadang "di tengah jalan", ada yang tidak menyatu... Tidak perlu panik, cukup mundurkan kepala rit secara perlahan...tarik lagi ke depan perlahan-lahan. Ulangi lagi sampai berhasil.



Mungkin tidak sekali pasang langsung berhasil. Silakan diulang untuk memahami pola/ mendapat teknik yang paling oke. Hanya perlu pengulangan, sehingga kita hapal, pada posisi seperti apa pemasangan kepala rit menjadi mudah. Ok ? :)

Bahan-bahan tersebut bisa teman-teman dapatkan di FB Paket Belajar Flanel



Salam,

 

nupi-nupi Copyright © 2012 Design by cutelittleowl.com