Senin, 28 Oktober 2013

Tidak Masuk Akal

Posted by Nupinupi at 21.56
Reactions: 
12 comments Links to this post
Melanjutkan tulisan saya, hati-hati dengan keluhan anda, hati-hati dengan pikiran anda. Ada hal-hal menarik...yang semakin menguatkan keyakinan saya, bahwa semua memang sudah diatur dengan baik oleh-Nya. Perkembangan terakhir, Nupinupi harus legowo “ditinggal” oleh 2 orang pegawai. Karena alasan masuk akal, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan yang satu, ibu RT yang sudah mulai sibuk karena anaknya ikut banyak les (antar jemput). Oke, tak masalah. Meskipun kalau dilihat, waktunya tidak tepat. Di saat saya harus memantau Nupinupi secara jarak jauh, malah ditinggal pegawai resign. Jujur, saya sempat  “meratapi” hal ini, tapi alhamdulillah hanya sehari. Setelah itu segera berpikir langkah selanjutnya. Salah satunya membuat brosur lowongan yang akan saya titipkan ke teman yang bekerja di Pusat Grosir Solo.  Logika saya, selain lebih mudah dan cepat, juga tepat sasaran. Karena yang saya butuhkan adalah lulusan SMA/sederajat.

Galau? Tentu saja sangat galau. Bagaimana Nupinupi akan berjalan baik, kalau pantauan jarak jauh, fokus terbelah, dan pegawai tinggal 1?!

Cerita di mulai sejak setahun yang lalu, saya mencari-cari kontrakan yang cocok untuk kantor Nupinupi. Karena rumah saya sudah tidak muat, dan capek bersih-bersihnya. Lagipula, pikiran juga capek, karena seolah tidak pernah berhenti bekerja. Serasa di “kantor” meskipun hari sabtu-minggu/libur.

Kriteria kontrakan yang cocok menurut saya :
  1. Dekat rumah, atau kalau perlu 1 komplek, supaya saya tidak harus punya -2 rumah tangga-
  2. Harga sewa terjangkau (sesuai pasaran di sekitar situ)
  3. Ada teras/garasi untuk parkir sepeda motor para pegawai.
Tapi...ternyata tidak semudah yang saya kira. Padahal dulu depan rumah pas, dikontrakkan. Sampai lama tidak ada yang minat (saya juga belum kepikiran punya kantor sendiri untuk Nupinupi). Di komplek perumahan saya, dulu ada 3 rumah yang dikontrakkan. Giliran saya butuh, tidak ada satupun yang kosong. Lalu saya cari-cari di luar komplek, ada dua rumah di komplek belakang. Yang satu bagus, tapi amat sangat mahal. Yang satu sangat murah, tapi kumuh. Oke, mundur. Akhirnya di kompleks saya ada yang pindah...lalu rumahnya dikontrakkan. Ini diaaa.....!! Dengan penuh semangat saya menghubungi pemilik kontrakan. Saya pikir harga sewanya akan sama seperti biasanya. Ternyata, menjadi 2x lipat. Ya alloh... (kecewa). Suami saya bilang, “Di tunggu aja, ntar juga turun sendiri kalo tidak ada yang mau ngontrak. Kemahalan soalnya.” Oke...saya setia menunggu (harga turun). Tapi bukannya turun, malah ada yang mau ngontrak. Katanya teman pemilik rumah yang mau ngontrak. Aduuh... Dalam hati saya bilang (lebih tepatnya protes sih), “Ya Alloh, saya kan sudah berdoa, memohon kepada-Mu supaya diberi kontrakan yang cocok. Kenapa susah sekali cari kontrakan. Sebenarnya rencana-Mu apa?” Itu yang saya pikirkan sejak 1 tahun yang lalu. Masalah pegawai juga sama. Katanya cari pekerjaan susah, tapi nyatanya...cari pegawai juga sangat susah. Nah...untuk sementara waktu, mari kita katakan, bahwa usaha saya mencari kontrakan dan pegawai belum maksimal.

Cerita selanjutnya adalah, saya harus merawat bapak mertua yang sakit kanker, dan entah sampai kapan saya akan menjadi perawat fulltime. Beberapa minggu yang lalu, ketika pegawai saya mengatakan akan mundur, migrain saya kambuh. Ditinggal 2 pegawai...tidak bisa saya bayangkan “kekacauan” Nupinupi. Mana pegawai yang tersisa, bulan Desember insyaallah akan menikah.

Kalaupun saya merekrut pegawai baru, bagaimana saya bisa mentrainingnya. Karena waktu saya sangat terbatas, dan tidak bisa setiap hari “ngantor”. Dan lagi, sekarang saya tidak pernah lagi berkreasi. Barang di sana, orangnya di sini. “Kenapa tidak di bawa sebagian?” Sebagian itu seberapa? Padahal kalau saya sedang membuat kreasi, sifatnya spontanitas. Ketika saya membuat desain, saya pikir memakai bahan/aplikasi A cocok. Tapi ketika praktek, ternyata tidak cocok...saya harus mencari bahan/aplikasi lain yang cocok kan?! Maka, repot kalau antara saya dan bahan berjauhan/terbatas.

Terbesit wacana pindah kantor di sekitar rumah ortu, supaya pemantauan lebih dekat dan proses pembuatan kreasi juga bisa berjalan kembali. Tapi di mana? Dan haruskah pindah? Karena kalau pindah, selain repot juga mengeluarkan biaya besar. Banyak sekali plus minusnya kalau pindah.
Sebelah kiri rumah ortu saya, dinyatakan akan dikontrakkan. Harga sewanya lebih mahal dari harga pasaran. Makin malas saja saya untuk memutuskan pindah. Tidak ada ketertarikan lah pokoknya. Tapi tentu saja saya tetap khawatir, per November pegawai saya tinggal 1. Kalau tidak pindah bagaimana?!

Pada saat yang sama, tetangga sebelah kanan saya menikah. Istrinya “calon pengangguran” yang berniat setelah menikah akan mencari kesibukan. Dan dia bersedia kalau saya rekrut. Tapi ini juga belum terlalu saya pikirkan. Karena dia maunya kerja di sekitar rumah saja. Kalau harus ke kantor Nupinupi di Sukoharjo, agak keberatan. Padahal kan saya masih ragu, pindah atau tidak. Ditambah, pegawai lama yang keberatan kalau kantor Nupinupi pindah (ada indikasi, dia akan keluar kalau merasa kejauhan dari rumahnya). Bingung banget kan... X_x

Saya memohon petunjuk pada-Nya, pindah atau tidak. Dalam hati, sangat berat kalau harus pindah “kantor” di sekitar rumah ortu. Sampai berhari-hari saya galau dan menanti-nanti petunjuk-Nya. “Mana nih petunjuk-Nya? Kok gak kliatan-kliatan? Apa aku yang kurang jeli?” Hehehehe.

Lalu saya sharing dengan teman crafter, yang kalau saya sebut namanya, pasti teman-teman kenal, karena dia memang populer, dedengkot grup craft. Hahahahaha.

Beliau mengatakan, “Kadang petunjuk itu berupa kemudahan-kemudahan yang disediakan oleh-Nya” “Ikuti kata hatimu, jangan pikiranmu.” Ooh ya?? Hmmm...apa saja kemudahan itu? Kontrakan di sebelah kiri rumah ortu? calon pegawai baru yang rumahnya di sebelah kanan rumah ortu? Tapi nanti kalau pegawai lama saya malah mundur, pegawai saya cuma satu, ngajarin dari nol lagi... Kata hati? Kata hatiku, kewajibanku sekarang adalah merawat bapak mertua.
Tidak, petunjuk-petunjuk itu belum meyakinkan. Tegas saya dalam hati.

Beberapa waktu kemudian, si pemilik kontrakan dekat rumah ortu menelfon, harga sewa diturunkan, seperti harga pasaran. Kemudahan  dan petunjuk lagi? Hmmm...masih belum yakin.

Lalu, saya curhat dengan teman saya (bukan crafter). Dia sahabat saya sejak kuliah. Juragan jamu di daerah Sukoharjo. Saya tidak tahu dia punya truk (padahal sudah sewajarnya dia punya truk, hahahaha). Dengan enteng dia bilang, “Kalau nanti jadi pindahan, pakai aja truk-ku. Sama sopirnya sekalian, karena jarang orang bisa nyetir engkel/truk.”... Masih dengan malas, “Iya deh... tapi ini belum pasti kok”... Masih belum yakin dengan (atau lebih tepatnya tidak mau menerima) tanda itu. Hahahahaha. #ngeyel.

Setelah sempat menyalahkan keadaan karena pusing tingkat lanjut (akibat tidak mau menerima kenyataan sih sebenarnya), terngiang-ngiang terus kata-kata sohib crafter saya, petunjuk bisa jadi berupa kemudahan-kemudahan. Apa iya ya? Kontrakan di sebelah kiri rumah yang harga sewanya terjangkau/diturunkan, calon pegawai di sebelah kanan rumah, pinjaman truk + sopirnya gratis.... Apa lagi?  Kalau saya pindah, saya bisa memantau Nupinupi secara langsung, dapat pegawai baru, bisa kembali membuat kreasi dan tutorial, sekaligus bisa merawat bapak mertua. Bagi saya, ini semua tidak masuk akal kalau hanya kebetulan. Akhirnya saya mantap untuk pindah kantor.

Sekarang saya paham, kenapa kemarin-kemarin saya harus merasakan kesulitan-kesulitan ini :
1.  Sulit mendapat kontrakan yang cocok
2. Sulit mendapat pegawai, padahal katanya banyak orang yang butuh pekerjaan
3. Belum diberi momongan sampai tahun ke-4 pernikahan
Dan lain-lain. 

Ternyata seperti ini rencana-Nya. 
1. Coba kalau saya dulu sudah mendapatkan kontrakan di sekitar kantor lama Nupinupi, apa saya tidak pusing memikirkan 2 rumah yang jauh?! 
2. Coba saya dulu mendapat pegawai yang rumahnya sekitar Solo/Sukoharjo (keinginan saya dulu begitu), mungkin sekarang saya akan super sangat berat untuk pindah kantor di sekitar rumah ortu, atau bahkan tidak kepikiran. Sehingga akan tetap memantau Nupinupi jarak jauh (dan itu pastinya tidak bagus untuk perkembangan Nupinupi). 
3. Coba saya sekarang saya sudah punya anak. Pusing mikir bisnis, merawat anak dan pasien. 

Ternyata akan jauh lebih ruwet kalau semua atau salah satu saja dari permohonan saya dulu terkabul pada saat itu juga. Sekarang saya tinggal pusing memikirkan dana untuk sewa kontrakan. Hahahaha. Yah..berdoa sajalah, semoga minggu ini banyak pelanggan baru/lama berdatangan, sehingga uang di rekening cukup untuk melunasi sewa kontrakan 1 tahun dan belanja bahan bulanan. Aamiin.

Nah...hikmah apa yang teman-teman dapatkan setalah membaca kisah yang bertele-tele ini? Saya tunggu komentar teman-teman... ^^, 



Salam penuh semangat, 

Selasa, 08 Oktober 2013

PBF Baru?? Belum pasti....

Posted by Nupinupi at 23.36
Reactions: 
8 comments Links to this post
Kenapa belum pasti? karena ada beberapa bahan yang ternyata susah restock. Padahal bahan itu akan terus dibutuhkan untuk melengkapi bahan paket belajar. Sedang mencari-cari bahan alternatif :)
Beberapa desain kreasi saya contoh dari kreasi orang lain yang bertebaran di google. Tapi tentu saja, 100% pola dan ukuran saya buat sendiri. Seperti biasa, 99,9% bahan flanel dan 100% jahit tangan ^^

Kalau ada pertanyaan, kapan diluncurkan? Hmmm, belum pasti. Tapi sepertinya masih lama... Bisa 1 - 2 bulan lagi. Hehehehe. Keburu di contek orang doong... Silakaan, lagipula saya juga cuma nyontek kok ^^v

1. BIRDIE HOUSE



 2. OWL IN THE MIRROR




3.CINCIN RAINBOW




4. ANTING SARANG BURUNG






5. FLOWER CROWN

 



6.BANDO SERUNI




7. JEPIT SERUNI






8. BROS CUPCAKE


9. BROS TERATAI




10.JEPIT FLORA





11. MESSENGER GIRL



12. SLEEPY TEDDY




13. HONEYMOON ON THE CLOUD



14.WELCOME BIRDIE






Salam,

Rabu, 02 Oktober 2013

Hati-hati Dengan Keluhan Anda! Hati-hati Dengan Pikiran Anda!

Posted by Nupinupi at 21.55
Reactions: 
16 comments Links to this post

Sebagai manusia, setiap saat kita berpikir. Berpikir macam-macam, ada yang positif, ada yang negatif. Nah, yang paling sering adalah pikiran negatif, sadar atau tidak sadar.

Pikiran negatif itu biasanya berupa prasangka buruk, kesombongan, dan (paling sering) adalah KELUHAN. Terucap maupun dalam hati.

Kita semua tahu, bahwa hal tersebut buruk. Karena itu adalah penyakit hati. Yang namanya penyakit itu bahaya kalau dibiarkan. Tapi sayangnya...kita sering tidak merasa/menyadari, bahwa kita “penyakitan”... Kita malah “memelihara” dan menyuburkannya. Sampai kemudian harus diobati oleh-Nya dengan teguran.

Beberapa waktu yang lalu, saya bercerita..bahwa sekarang saya adalah suster/perawat fulltime bagi bapak mertua yang sakit kanker nasofaring stadium 4. Ini ternyata bukan sekedar ujian, tapi juga teguran bagi saya. Selama ini saya memendam banyak keluhan, yang setiap hari saya gumamkan dalam hati. Dan sekarang...keluhan dan andai-andai saya, dikabulkan oleh-Nya, dengan cara yang tidak terduga.

Ini daftar keluhan saya :
  1. Rumah saya adalah sumah kantor. Eh bukan, gudang kantor, hehehehe.... Karena sangat penuh dengan barang-barang dagangan. Saya selalu berpikir, bahwa saya tidak suka rumah saya itu. Sumpek, panas, dan membuat saya capek saja. Setiap hari saya harus jadi OG setelah semua pegawai pulang. Saya sebal dengan rumah saya itu, saya lebih suka dan nyaman di rumah ortu saya yang lega. “Seandainya saya bisa setiap hari di rumah ortu terus, enak pasti..” Dan...Alloh mengijabah.
  • Sekarang saya harus di rumah ortu terus, karena perawatan bapak mertua paling efisien di rumah ortu saya.
  • Sekarang saya tidak lagi capek jadi OG setiap hari, karena memang saya hanya bisa menengok rumah saya seminggu sekali, itupun hanya sebentar.
  • Ternyata, saya sangat merindukan rumah saya itu, rindu sapu, pel, dan tempat sampah di rumah itu. T_____T   
 
ilustrasi tambahan saja, supaya tidak bosan.. :)
2.   Hampir setiap hari saya mondar-mandir antarkota, antarpropinsi untuk belanja atau mengurus toko kerudung. Dalam hati, saya mengeluh. “Seandainya saya tidak perlu melakukan hal ini.. Saya cukup duduk manis, semua dikerjakan dan dibereskan oleh pegawai-pegawai saya, pasti asik”. Dan...Alloh mengijabah.
  • Sekarang saya benar-benar hanya duduk manis di rumah, tidak bisa kemana-mana. Semua urusan OS sepenuhnya ditangani pegawai-pegawai saya. Tapi saya “duduk manis” di rumah bukan untuk santai. Saya harus menyiapkan makan, obat, jus, susu, terapi herbal dan keperluan pasien lainnya. Suami saya bekerja di luar kota, ortu saya juga bekerja, saudara semua jauh. Siapa lagi kalau bukan saya?! (alhamdullilah saya jadi pengusaha, kalau PNS atau pegawai kantoran?!)
3.  Setiap hari saya ada di luar rumah terus. “Kalau seperti ini terus, kapan saya bisa mengurus menejemen, membenahi blog, membenahi aturan-aturan OS yang sudah tidak relevan lagi, dan masalah-masalah teknis lainnya? Dan ini pun di respon oleh-Nya. Sekarang saya setiap hari hanya bisa duduk di depan laptop untuk memikirkan masalah-masalah tersebut, sambil menggodog ramuan  herbal.
4.     Berat badan saya over 10 kg. Saya ingin kembali langsing ideal seperti sebelum saya menikah. “Ya Alloh, saya ingin langsing”.... Dan sekarang saya melangsing. Sudah turun 4 kg. Kurang 6 kg lagi, saya mencapai berat ideal, tanpa olahraga. Hahahahaha. *Ups
Dan masih banyak lagi...

Dalam hati saya menangis. “Ya Alloh, kenapa Engkau kabulkan/beri solusi semua keluhanku dengan cara seperti ini? Kenapa tidak dengan cara yang menyenangkan?”.... Hehehehehe. Intinya, selama ini saya KUFUR NIKMAT.

Ini daftar kufur nikmat saya :
  1. Nikmat waktu yang saya sia-siakan... Suka sekali tidur. Dan CAPEK atau “besok saja” adalah excuse bagi saya.
  2. Nikmat punya rumah
  3. Nikmat pekerjaan yang ternyata sangat saya cintai, dan mungkin orang lain inginkan, meskipun melelahkan. Sekarang...setiap saya merasa letih/lelah, saya bersyukur. Karena seharian saya bisa beraktifitas, tidak hanya –harus- tiduran saja.
  4. Nikmat kebebasan yang tidak saya sadari. Kurang bebas apa, hari ini saya di Jogja, besok sudah ada di Semarang, lusa sudah berangkat ke Jakarta, dst. Sekarang...saya mau ke apotik saja harus menunggu setelah jam makan, dan itupun tidak lama-lama. Karena setiap 1 atau 2 jam, bapak harus meminum jus/susu/obat herbalnya. Kenapa bergantung sekali kepada saya? Karena makan/minumnya lewat sonde (selang di hidung), tidak bisa menelan makanan/minuman.
  5. Nikmat sehat. Ini yang paling sering kita lupakan. Mengeluh masalah ini-itu. Dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. Sampai di buat status lagi...(antara mengeluh atau  sebenarnya pamer, saya tidak tahu). Sekarang....saya sangat bersyukur. Saya bisa menghirup udara gratis lewat hidung saya dengan normal. Karena di depan saya, ada manusia yang bernafas harus lewat lubang buatan di tenggorokannya (trakeostomi). Sekarang....saya makan lauk tempe saja sudah membuat saya hampir menangis bahagia. Karena saya bisa mengunyah dan menelan makanan dengan nyaman, bisa merasakan gurihnya,dan tanpa rasa sakit. Sekarang...setiap pergi keluar, saya bersyukur sekali, bisa kesana-kemari dengan tubuh saya yang sehat ini.
Teman-teman crafter, apapun hal yang tidak kalian sukai, tapi setiap hari harus kalian hadapi, cobalah untuk sedikit demi sedikit melihat sisi positifnya. Sehingga kita bisa mulai menyukai dan kemudian mensyukurinya. Jangan sampai kita menyadari bahwa sesungguhnya itu adalah sebuah nikmat, tapi sudah terlambat. Karena Dia terlanjur mencabutnya dari hidup kita. Hal-hal sepele/sekecil apapun, cobalah untuk merenunginya terlebih dahulu, sebelum kita mengeluhkannya dan apalagi membesar-besarkan ketidakterimaan kita terhadap hal yang tidak kita sukai itu.
  • Tentang pelanggan yang rewel/rese, alhamdulillah yah, kita punya pelanggan. Dan kalau mau menstatistik, pelanggan yang baik pasti lebih banyak daripada pelanggan yang rewel
  • Tentang rasa capek, bahkan sampai ingin muntah, karena orderan menumpuk dan kita belum punya asisten. Alhamdulillah, banjir order. Belum punya asisten karena memang belum waktunya (Ingat, Alloh selalu tepat waktu dan memberikan yang terbaik)
  • Tentang kreasi (yang menurut kita paling keren dan itu adalah ide orisinil kita) di contek oleh crafter lain. Alhamdulillah, berarti kreasi kita memang bagus. Ayo cari ide lain lagi... Kalau di contek lagi? Ya cari ide dan buat yang lain lagi. Kita tidak rugi apa-apa kok, yang ada malah tambah pinter/kreatif.
  • Tentang pelanggan yang tanya-tanya terus, tapi tidak belanja. Alhamdulillah, kita punya usaha, ada pelanggan, ada yang tertarik (meskipun tidak beli). Kalau anda merasa rugi karena hal itu, tidak usah buka usaha. Jadi tidak akan ada pelanggan yang tanya-tanya, apalagi hit and run.
  • Tentang pesaing, yang menurut kita lebih bagus/mengancam popularitas kita/meniru ide kita.... Hari gini masih meributkan hal seperti itu? Sudah kuno! Persaingan itu wajar, bahkan di segala bidang kehidupan, harus ada persaingan..supaya kita selalu move on.Alhamdulillah, ada pesaing...kita harus belajar lebih banyak lagi, kita harus lebih inovatif, dan kita harus lebih lainnya lagi.
  • Ingin belajar membuat kreasi flanel dan memulai usahanya, tapi tidak punya dana cukup. Ini sepatutnya tidak dikeluhkan, tapi di cari solusinya. Mulailah belajar... Tidak punya uang? Mulailah dari yang gratis. Malas? Ya sudah..tidur saja.
Sesungguhnya, keluhan-keluhan kita itu hanyalah menunjukkan betapa malas/enggannya kita untuk bergerak... Itu saja.

Semoga sedikit pengalaman saya ini bisa membakar kembali semangat teman-teman, dan mulai untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya yang ternyata berlimpah. Saya juga minta doa dari teman-teman, supaya kami bisa melalui ujian ini dengan baik. Terimakasih.



Salam,

 

nupi-nupi Copyright © 2012 Design by cutelittleowl.com