Rabu, 13 Agustus 2014

Saya Baru Sekolah Selama 5 Tahun

Posted by Nupinupi at 01.10
Reactions: 
Assalamu'alaikum Wr.Wb



Umur saya 32 tahun. Tapi saya baru sekolah selama 5 tahun. Kok bisa? Dulu nggak sekolah TK, SD, SMP, SMA ya? Alhamdulillah saya lulus dengan baik di sekolah-sekolah formal tersebut . Tapi, saya merasa benar-benar sekolah justru setelah lulus kuliah. Lagi-lagi, kok bisa? Dulu saya tidak pernah kadang-kadang membolos, selebihnya mengikuti pelajaran sekolah dengan baik. Buktinya, rangking saya selalu 3 besar di kelas. Berarti secara akademis, saya (alhamdulillah) pintar kan?! Lulus kuliah juga dengan waktu yang wajar, 4.5 tahun, IPK 3 koma. Tapi kok bisa merasa sekolah baru 5 tahun? Setelah lulus kuliah lagi...

Karena setelah lulus kuliah, saya baru benar-benar merasa belajar. Saya belajar menjadi pengusaha. Saya belajar dari kebangkrutan, kerugian, kegagalan, kesalahan, kepusingan, konflik, keberhasilan, dan masih banyak lagi. Dan itu sungguh berbeda dengan yang saya dapatkan dari bangku sekolah. Saya juga baru menyadarinya beberapa waktu yang lalu kok, ternyata -justru- ketika saya menjadi pengusaha, saya belajar sesungguhnya. Bagaimana tidak bersungguh-sungguh, taruhannya kan “hidup saya”. Semasa sekolah formal, kalau saya tidak belajar sungguh-sungguh, taruhannya adalah dimarahi ortu, tinggal kelas atau susah mencari sekolah untuk melanjutkan atau susah mencari pekerjaan. Apakah itu bukan mempertaruhkan hidup? Siapa yang peduli dengan pertaruhan itu di benak seorang anak kecil-remaja-menjelang dewasa? Yang ada di otak saya ketika itu adalah, saya hanya harus sungguh-sungguh belajar supaya nilai saya bagus  dan mendapat rangking, lalu tidak menyusahkan orangtua ketika akan melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya/mudah mencari pekerjaan. Tidak ada “pertaruhan” hidup di situ, atau dengan kata lain, kesadarannya belum sampai kesitu. Benar?

Nah, ketika saya ingin menjadi pengusaha itulah, saya baru benar-benar belajar (sekolah). Saya memulai usaha (Paket Belajar Flanel) tahun 2009, di sebuah kontrakan kecil di Jakarta Timur. Tepat setelah saya menikah dan resign dari pekerjaan.  Di kontrakan kecil itulah Nupinupi lahir. Sebenarnya, saya sudah memulai usaha flanel ketika masih kuliah. Tapi tidak serius, hanya untuk kesenangan dan kepuasan saja. Uang hasil penjualan juga selalu habis, saya setorkan ke Gramedia untuk membeli buku-buku bisnis. Saya ingat sekali, ucapan seseorang kepada saya : “Kamu bisa gila, baca buku-buku bisnis  terus. Memang kamu bisa jadi pengusaha?! Sudah, kuliah aja...uang minta orangtua juga dikasih, tidak perlu sampai segitunya” . Siapakah orang itu? Dia adalah mantan saya, hahahahaha. Sungguh! Dan sejak saat itu, saya mulai berpikir ulang untuk “berjodoh” dengannya. Hingga akhirnya saya yakin, dia bukan calon suami yang cocok untuk saya. Hahahahaha, curcol.

Ketika memulai usaha, pastilah saya sudah “pandai”, karena sejak kuliah sudah membaca banyak buku bisnis. Oow...tentu saja tidak! Teori tanpa praktek tetaplah omong kosong. Saya benar-benar “menjadi pandai” ketika mulai praktek. Sedikit demi sedikit mempraktekkan apa yang saya pelajari. Dan menjadi “semakin pandai” ketika saya mengajarkannya. Ya...mengajarkannya kepada orang lain. Ini serius. Jadi, kalau teman-teman ingin menguasai suatu ilmu dengan baik dan cepat, ajarkanlah kepada orang lain. Meskipun teman-teman masih nol besar mengenai ilmu tersebut. Belajar-ajarkan-belajar-ajarkan-belajar-ajarkan. Begitu seterusnya. Itu percepatan ilmu...  Jadi, kalau ada yang masih pelit berbagi ilmu, karena khawatir akan memiliki banyak saingan, justru anda tidak akan berkembang. Yakin! Dengan mengajarkan, saya malah menjadi semakin paham dan mendapat lebih banyak ilmu. Kok bisa begitu, saya juga heran. Kesimpulan  saya, janji Alloh SWT benar. Sedekah (dalam hal ini -ilmu) itu memudahkan dan melipatgadakan (: Lalu, bagaimana kalau ada orang yang sudah kita ajari, tapi dia malah (menurut kita) menyebalkan? Malah mengaku itu ilmu temuannya sendiri, dan kalau ada orang lain yang menerapkan/meniru, dikatakan nyontek darinya. Rasanyaa....pengen meng-kuncir mulutnya, lalu dijepret-jepretin pakai karet gelang.  Hahahahahaha, woles sajaaa.. Bukankah kita mendapatkan ilmu juga dari orang lain? Atau, mungkin secara tidak langsung, mendapat inspirasi dari apa yang dilakukan orang lain. Lalu, tercetuslah ide di benak kita. Seperti apa yang selalu saya yakini, tidak ada yang benar-benar orisinal, kecuali wahyu Alloh SWT. Segala hal di dunia ini adalah inovasi dari inovasi, atau kalau yang plek sama, duplikat dari duplikat. Siapa yang tidak kenal Isaac Newton? Dia penemu hukum gravitasi.  Dia adalah ilmuwan besar dan paling berpengaruh di dunia. Tapi dia tidak serta merta menemukan hukum gravitasi begitu saja. Dia juga belajar (terinspirasi) dari ilmuwan-ilmuwan besar  terdahulu  lainnya, yaitu Johannes Keppler, Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes. Jadi, kenapa harus sombong dengan ilmu yang kita miliki? Atau, takut ilmu kita berkurang kalau kita bagikan? Satu-satunnya hal yang jika “di curi” itu akan bertambah semakin banyak adalah ilmu yang bermanfaat.

Kembali ke masalah “sekolah”, baru ketika saya memulai usaha saya merasa benar-benar sekolah. Semua mulai dari nol. Saya harus belajar nge-blog, facebook, menulis, menjual, marketing, cashflow, memenej karyawan, mengenal konsumen, mengembangkan jaringan, fotografi, coreldraw, photoshop,  bla..bla..bla.... Yang ternyata banyak sekali, dan saya tidak sadar sudah belajar sebanyak itu, dan masih harus belajar lebih banyak lagi. Makanya, kalau ada yang ingin menjadi pengusaha, tapi banyak alasan merasa tidak pantas, karena tidak tahu apa-apa dan lain-lain, itu sangat lucu. Karena saya lihat, semua pengusaha di dunia ini harus belajar sungguh-sungguh hingga akhirnya bisa menjadi pengusaha sukses. Sekelas Nabi saja, beliau juga harus belajar menjadi pengusaha, sejak usia 12 tahun. Baru kemudian usia 25 tahun, beliau menjadi pengusaha yang kesuksesannya kondang seantero dunia. Nah...dari situ harusnya kita sadar dong ya...bahwa menjadi pengusaha itu memang harus belajar. Jangan mimpi menjadi pengusaha kalau tidak mau/malas belajar (:
Selamat belajar ^^9



Wassalamu'alaikum

8 komentar:

  1. Inspiring banget, setuju sangat...!!!
    Alhamdulillah saya pun sedang dalam proses belajar-mengajarkan. Saya masih terus mencari ide untuk berkreasi flanel dan merajut, alhamdulillah kegiatan keputrian di sekolah menjadi lahan besar untuk membagi ilmu tersebut pada anak didik saya. Moga ilmu yg saya bagikan akan bermanfaat bagi masa depan mereka kelak seperti yg saya rasakan, betapa hobi ini sangat membantu keuangan keluarga. Makasih mba Prapti...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo mb Nia... senangnya sudah mempunyai lahan tetap berbagi ilmu. Tidak ada yang lebih menyenangkan, hidup dan bekerja sesuai passion. Bisa menekuni hobi, sekaligus berbagi dan mendapat keuntungan materi. Hidup yang luarbiasa ya mb ^^ aaamiiin. Terus semangat ya mb Nia, smoga Alloh selalu memberkahi.

      Hapus
  2. Selamat atas kelahiran nupi nupi... lhah telat ya.. hihi.. semangkaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baru september ini mama abeeelll... kecepeten,hahahaha

      Hapus
  3. jadi pengusaha emang harus tahan banting ya kak
    aku baru jadi reseller aja udah nyerah HAHAHAHA *blushing*

    BalasHapus
  4. izin share mbk...

    BalasHapus

 

nupi-nupi Copyright © 2012 Design by cutelittleowl.com